Pemerintah Iran mengecam keras serangan tersebut sebagai “kejahatan besar” dan “agresi teroris”.
Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyatakan bahwa Iran akan membalas dendam atas kematian pemimpinnya dan para martir lainnya.
Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) dalam pernyataannya menyebut kepergian Khamenei sebagai kehilangan besar, namun menegaskan bahwa perjuangan akan terus berlanjut.
Baca Juga:Polsek Wanaraja Bubarkan Aksi Balap Liar di Jalan Sawah Lega, 5 Motor Modifikasi Racing DiamankanRespons Cepat Polisi Garut Tangani Pengaduan Petasan di Malam Ramadan melalui WA Taros Kapolres
Kematian Khamenei menciptakan kekosongan kekuasaan di puncak kepemimpinan Iran. Menurut konstitusi Iran, Majelis Ahli bertugas memilih pemimpin tertinggi baru, sementara periode transisi sementara dipimpin oleh Presiden Pezeshkian bersama dua pejabat tinggi lainnya.
Situasi ini memicu kekhawatiran akan instabilitas internal dan potensi eskalasi lebih lanjut di kawasan Timur Tengah.
Analis politik Timur Tengah menyebut peristiwa ini sebagai titik balik bersejarah. Khamenei, yang menggantikan Ayatollah Ruhollah Khomeini, dikenal sebagai arsitek kebijakan anti-Barat dan pendukung kuat “poros perlawanan” termasuk Hizbullah, Hamas, dan kelompok-kelompok di Irak serta Yaman.
Kematiannya di tangan AS dan Israel diyakini akan mempercepat perubahan dinamika kekuatan regional, meski juga berisiko memicu perang terbuka yang lebih luas.
Iran telah menyatakan akan melakukan pembalasan, sementara komunitas internasional memantau ketat perkembangan selanjutnya.
Lebih dari 200 warga dilaporkan tewas sejak dimulainya serangan, termasuk tiga anggota militer AS dalam insiden terkait. Dunia kini menanti langkah apa yang akan diambil Teheran di tengah duka nasional yang mendalam ini.
