Meski evakuasi massal belum diaktifkan karena situasi di Iran masih dinilai kondusif bagi WNI, pemerintah telah menyiapkan berbagai rencana kontingensi, termasuk opsi jalur evakuasi darat, udara, atau melalui negara ketiga. Pada 2025 lalu, evakuasi parsial sudah dilakukan dari Iran yang melibatkan sekitar 93 WNI yang berhasil dievakuasi, dan status siaga KBRI Teheran dinaikkan menjadi Siaga 1 sejak Juni 2025 dan statusnya masih berlaku hingga kini.
Posisi Diplomasi Aktif dan Netral Indonesia tidak hanya fokus pada perlindungan WNI, tapi juga berperan sebagai fasilitator perdamaian. Presiden Prabowo menyatakan kesiapan memfasilitasi dialog dan bahkan bersedia terbang ke Teheran untuk mediasi jika disetujui semua pihak.
Sikap ini sejalan dengan tradisi politik luar negeri bebas aktif, menyerukan de-eskalasi melalui diplomasi, menolak agresi militer, dan mendukung solusi damai sesuai hukum internasional. Indonesia juga aktif di forum multilateral seperti PBB dan OKI untuk mendorong penghentian kekerasan.
Baca Juga:Bocah 9 Tahun Diduga Hanyut di Sungai Cikandandang Garut, Pencarian Tim Gabungan Masih BerlangsungLonjakan Harga Emas Dunia Tembus Rekor Baru Akibat Eskalasi Konflik Amerika Serikat vs Iran
Meski demikian, ada tantangan besar. Konflik ini berpotensi memengaruhi pasokan energi global, yang bisa berdampak pada harga BBM dan LPG di Indonesia. Tekanan domestik juga tinggi, dengan publik menuntut sikap lebih tegas mendukung Palestina dan mengecam agresi Israel-AS.
Secara keseluruhan, kebijakan RI saat ini menunjukkan prioritas ganda yaitu melindungi nyawa WNI secara maksimal sambil tetap menjaga posisi moral dan diplomatik di panggung global. WNI di Timur Tengah dihimbau untuk segera melapor ke KBRI/KJRI jika menghadapi kesulitan, dan masyarakat di tanah air diminta mendukung upaya pemerintah dengan tidak menambah beban di zona konflik.
Dengan pendekatan hati-hati dan proaktif ini, Indonesia berupaya meminimalkan risiko bagi ratusan WNI yang berada di garis depan ketegangan Timur Tengah, sekaligus berkontribusi pada upaya perdamaian regional. (*)
