RADARGARUT– Konflik di Timur Tengah, khususnya antara Israel, Iran, dan keterlibatan Amerika Serikat, kembali memanas pada akhir Februari 2026. Serangan gabungan AS-Israel ke wilayah Iran, termasuk target fasilitas militer dan bahkan menewaskan pemimpin tertinggi Iran, memicu kekhawatiran global termasuk di Indonesia.
Situasi ini berdampak langsung pada ribuan Warga Negara Indonesia yang berada di kawasan tersebut, baik sebagai pekerja migran, pelajar, maupun jamaah umrah. Menurut data terbaru dari Kementerian Luar Negeri RI dan perwakilan RI di lapangan, jumlah WNI di Iran tercatat sekitar 329 orang yang telah melapor ke KBRI Teheran. Mereka tersebar di Teheran dan beberapa kota lain, mayoritas dalam kondisi aman tanpa ancaman langsung pasca-serangan.
Di Israel, sebelum eskalasi terbaru, tercatat sekitar 194 WNI, dengan sebagian kecil sekitar 11 orang meminta evakuasi pada tahap awal konflik. Sementara itu, di negara-negara sekitar seperti Uni Emirat Arab dan Arab Saudi, ribuan WNI masih berada di sana, termasuk sekitar 58.000 jamaah umrah yang penerbangan ke Jeddah dan Madinah masih berjalan normal meski situasi regional tegang.
Baca Juga:Bocah 9 Tahun Diduga Hanyut di Sungai Cikandandang Garut, Pencarian Tim Gabungan Masih BerlangsungLonjakan Harga Emas Dunia Tembus Rekor Baru Akibat Eskalasi Konflik Amerika Serikat vs Iran
Pemerintah Indonesia, di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto, menempatkan perlindungan WNI sebagai prioritas utama di tengah gejolak ini. Kemenlu sendiri telah menerapkan beberapa kebijakan terhadap situasi terkini di Timur Tengah.
Kebijakan tersebut meliputi imbauan kewaspadaan dan pembatasan pergerakan. Seluruh WNI di wilayah terdampak diminta tetap tenang, meningkatkan kewaspadaan, mengurangi aktivitas di luar rumah, mematuhi arahan otoritas setempat, dan menjaga komunikasi rutin dengan perwakilan RI terdekat. KBRI Abu Dhabi, misalnya, secara spesifik mengimbau WNI di UEA untuk membatasi pergerakan setelah mendengar dentuman ledakan akibat konflik.
Selain itu upaya preventif lainnya yang dilakukan adalah penundaan perjalanan ke kawasan Timur Tengah. Kemlu secara tegas meminta masyarakat Indonesia menunda rencana perjalanan, baik wisata, bisnis, maupun transit melalui kawasan tersebut hingga situasi lebih kondusif. Ini untuk mencegah penambahan WNI di zona berisiko tinggi.
Kemlu juga membuka hotline darurat +62 812-9007-0027 yang bisa dihubungi kapan saja. KBRI dan KJRI di seluruh Timur Tengah melakukan komunikasi aktif, termasuk pendataan ulang dan pemantauan kondisi WNI secara real-time. Sehingga dengan adanya layanan tersebut diharapkan WNI di Timur Tengah dapat memberikan kabar secara real time guna penanganan tanggap apabila terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.
