Salah satu isu yang disampaikan oleh warga adalah terkait penonaktifan BPJS Kesehatan bagi sebagian penduduk, yang diharapkan mendapat perhatian dan tindak lanjut dari pihak berwenang.
Perwakilan dari KAMMI Komisariat RAA Adiwijaya turut hadir dan berpartisipasi dalam mensukseskan jalannya acara.
Kehadiran organisasi mahasiswa ini mencerminkan bentuk kolaborasi antara elemen pemerintah daerah, lembaga pendidikan keagamaan seperti pesantren, serta kelompok masyarakat sipil dalam menangani isu sosial.
Baca Juga:BRIN Siap Fasilitasi Garut Lahirkan Startup Unggulan: Dorong Ekonomi KreatifGarut Perkuat Daya Saing Daerah Melalui Kolaborasi Riset dengan BRIN
Kegiatan semacam ini menjadi salah satu contoh upaya penyaluran bantuan sosial di tingkat lokal, di mana pihak-pihak terkait berupaya berkontribusi untuk mengurangi beban masyarakat rentan, khususnya anak yatim piatu.
Melalui pendekatan yang melibatkan berbagai unsur, diharapkan dapat tercipta sinergi yang berkelanjutan dalam menangani masalah kesejahteraan sosial di Kabupaten Garut.
Acara ditutup dengan doa bersama agar bantuan yang diberikan dapat memberikan manfaat yang berkelanjutan, serta anak-anak yatim dapat tumbuh dan berkembang dengan baik di bawah bimbingan pesantren.
Kegiatan ini juga diharapkan dapat mendorong inisiatif serupa dari berbagai pihak di masa mendatang, demi meningkatkan kepedulian kolektif terhadap kelompok yang membutuhkan dukungan. (*)
