Rekan korban dan pelaku dari kelompok KKN menyebut korban sebagai pribadi yang ramah dan mudah bergaul, sementara pelaku dikenal sebagai sosok introvert di lingkungan kampus.
Pihak UIN Suska Riau menyatakan prihatin atas kejadian ini dan menegaskan bahwa kampus akan bekerja sama penuh dengan pihak kepolisian untuk mengusut tuntas kasus tersebut.
Dekan Fakultas Syariah dan Hukum, Maghfirah, menyampaikan bahwa fokus utama saat ini adalah pemulihan korban, sementara proses akademik korban akan disesuaikan dengan kondisi kesehatannya.
Baca Juga:BRIN Siap Fasilitasi Garut Lahirkan Startup Unggulan: Dorong Ekonomi KreatifGarut Perkuat Daya Saing Daerah Melalui Kolaborasi Riset dengan BRIN
Insiden ini menuai kecaman dari berbagai pihak, termasuk anggota DPRD Pekanbaru yang menyoroti pentingnya pencegahan kekerasan di lingkungan pendidikan.
Kasus ini juga memicu diskusi luas di masyarakat tentang bahaya kekerasan berbasis gender dan masalah penolakan asmara yang berujung pada tindakan ekstrem.
Hingga saat ini, penyelidikan masih berlangsung untuk memastikan tidak ada faktor lain di balik kejadian tersebut. Polisi juga mempertimbangkan penerapan pasal berlapis guna menjerat pelaku secara maksimal.
Kejadian tragis ini menjadi pengingat bagi semua pihak tentang pentingnya pengendalian emosi, komunikasi yang sehat, dan mekanisme pelaporan dini jika ada ancaman kekerasan di lingkungan kampus.
Semua mata kini tertuju pada proses hukum yang adil serta pemulihan penuh bagi korban. (*)
