GARUT – Intensitas curah hujan yang masih tinggi hingga Februari 2026 memberikan dampak secara langsung kepada aktivitas pertanian di Kabupaten Garut. Diantara yang paling terasa yaitu pada proses pascapanen padi, khususnya dalam tahap penjemuran gabah.
Minimnya terik matahari membuat banyak petani memilih menjual gabah dalam kondisi basah kepada pengepul, ketimbang memaksakan proses pengeringan yang berisiko merusak kualitas hasil panen.
“Curah hujan tinggi, terik matahari agak kurang sekarang ini. Kita kewalahan jika harus panen padi kemudian menjemurnya. Jadi kita langsung jual saja gabah basah ke pengepul,” ujar Nunung, warga Desa Mekarsari, Kecamatan Bayongbong.
Baca Juga:Curah Hujan Masih Tinggi, PI Sebut Ada Anomali dalam Serapan Pupuk SubsidiPolres Garut Bedah Rumah Lansia Tak Layak Huni di Karangpawitan
Menurut Nunung, keputusan ini tak semata-mata untuk mencari keuntungan cepat, melainkan sebagai cara praktis menyesuaikan kondisi cuaca yang tidak menentu.
Walaupun menjual dalam bentuk gabah basah, Nunung menegaskan bahwa hasil penjualan tetap akan digunakan untuk memenuhi kebutuhan pokok, terutama beras.
“Pada dasarnya kita bukan perlu uangnya. Kita tetap perlu beras, tapi karena kita kesulitan menjemur padinya, maka kita jual dulu, nantinya kita beli buat beras juga,” katanya.
Ia mengakui, pola seperti ini memiliki konsekuensi tersendiri. Harga gabah basah umumnya lebih rendah dibanding gabah kering. Namun dalam situasi curah hujan tinggi, pilihan tersebut dinilai lebih realistis.
“Ketimbang kita memaksanakan menjemur padi tapi kewalahan. Kita juga brabe ya harus seperti itu. Lebih baik kita jual gabahnya, nanti kita belikan untuk beras juga,” sebutnya.
Sementara itu, pengepul Padi di Kecamatan Bayongbong, Diat menyebut kondisi cuaca yang belum sepenuhnya bersahabat ini membuat pengepul petani juga mesti beradaptasi.
Tanpa dukungan fasilitas pengeringan yang memadai, ketergantungan pada sinar matahari masih menjadi tantangan utama dalam menjaga kualitas hasil panen.
Baca Juga:Polres Garut Pastikan 10,5 Ton Jagung Petani Sukawening Terserap Maksimal oleh BulogBelum Ada Perubahan Signifikan di Garut, Sekjen Laskar Prabowo 08 Berikan Tanggapan
“Para pengelul juga harus pintar dalam menyiasati bagiamana metode pengeringan yang efektif di masa curah hujan tinggi seperti sekarang,” pungkas Diat.(Feri)
