“Garut butuh ketegasan, bukan alasan. Rakyat menunggu hasil, bukan narasi,” tegasnya.
Sebelumnya, Wakil Bupati Garut, Putri Karlina, secara terbuka mengakui bahwa di tahun pertama kepemimpinannya bersama Syakur, belum mampu menghadirkan perubahan signifikan di Kabupaten Garut.
Bahkan Putri mengatakan, tahun pertamanya memimpin ini adalah tahun kegagalan dalam konteks capaian perubahan.
Baca Juga:Kades Karyamukti Terima Keluhan Warga Terkait Menu MBG, Dinilai Tak Sesuai Konsep AwalPolres Garut Tindak Tegas Dua Pengemudi Mobil Balap Liar yang Viral di Media Sosial
“Jadi tadi itu refleksi ya, refleksi saya pribadi sebenarnya. Saya bilang dengan tegas bahwa saya gagal, satu tahun belum ada perubahan betul, setuju,” ujarnya saat diwawancarai di Masjid Sekretariat Daerah Garut, Senin, 23 Februari 2026.
Namun demikian, Putri menegaskan bahwa kegagalan yang ia maksud bukanlah kegagalan dalam arti secara hukum, sehingga tidak menjadi alasan untuk mundur dari jabatan.
“Terus bagaimana menyikapinya? Ya, menyikapinya karena saya gagalnya bukan gagal cacat secara hukum, berarti kan tidak ada alasan untuk berhenti. Jadi, dalam 4 tahun saya cuma ingin, kalau misalnya kita bisa kerja lebih benar, ya harus lebih benar lagi,” katanya.
Putri juga menekankan pentingnya kolaborasi dalam membangun daerah, seraya mengakui bahwa perubahan tidak bisa diwujudkan secara individual.
“Intinya, saya mengakui dulu saya salah, saya belum bisa memberikan perubahan yang signifikan, kebijakan yang reformatif, belum bisa menstimulasi perubahan-perubahan luar biasa, tapi saya masih punya harapan, saya menaruh harapan, karena perubahan tidak bisa diinisiasi saya sendiri, harus oleh bersama-sama,” tuturnya.(Feri)
