Berdoa ketika berbuka
Waktu berbuka adalah salah satu waktu mustajab doa. Rasulullah SAW mengajarkan doa: “Allahumma inni laka shumtu wa bika aamantu wa ‘ala rizqika aftartu”
Artinya: Ya Allah, untuk-Mu aku berpuasa, kepada-Mu aku beriman, dan dengan rezeki-Mu aku berbuka
Sayangnya, banyak yang lebih sibuk menyantap makanan daripada berdoa terlebih dahulu. Padahal doa orang berpuasa ketika berbuka tidak tertolak.
Baca Juga:KUR BRI 2026: Solusi Modal Usaha Terjangkau untuk UMKM dengan Bunga RendahBupati Garut Abdusy Syakur Amin Hadiri Panen Raya Jagung di Lahan Yonif TP 890/Gardha Sakti
Menjaga lisan dan mengucapkan “Inni shaaim” saat tergoda marah atau berdebat
Puasa bukan hanya menahan makan-minum, tapi juga menahan lisan dari ghibah, fitnah, dan perkataan sia-sia.
Rasulullah SAW bersabda: “Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan perbuatan sia-sia, maka Allah tidak butuh puasanya dari makan dan minum.” (HR. Bukhari).
Saat dipancing emosi, sunnahnya mengucapkan “Inni shaaim” atau dalam bahasa Indonesia berarti Aku sedang puasa untuk mengingatkan diri dan orang lain.
Amalan ini sangat jarang dilakukan di era media sosial yang penuh perdebatan.
Bersiwak (atau sikat gigi) di siang hari
Bersiwak sunnah setiap waktu, terlebih saat puasa karena bisa menghilangkan bau mulut tanpa membatalkan puasa.
Banyak ulama menegaskan bahwa bersiwak di siang hari Ramadhan tetap sunnah dan dianjurkan.
Memperbanyak sedekah dan memberi makan berbuka
Rasulullah SAW paling dermawan di bulan Ramadhan. Memberi makan orang berbuka memiliki pahala seperti puasa orang tersebut tanpa mengurangi pahalanya. Amalan ini sering terlewat karena lebih fokus pada konsumsi pribadi.
Baca Juga:Rekomendasi Style Dan Warna Baju Jelang Lebaran 2026Mudik Gratis 2026: Panduan Lengkap Daftar, Syarat, Rute, dan Jadwal Terbaru
Shalat sunnah qabliyah Subuh setelah sahur terlambat
Mengakhirkan sahur justru memudahkan bangun untuk shalat Subuh berjamaah plus qabliyah 2 rakaat.
Dengan mengamalkan sunnah-sunnah di atas, puasa kita tidak hanya sah secara fiqih, tapi juga mendekati kesempurnaan sebagaimana dicontohkan Rasulullah SAW.
Bulan Ramadhan adalah ladang pahala yang terbatas waktu jadi jangan sampai kita hanya mendapatkan “kerangka” puasa tanpa “ruh” sunnahnya.(*)
