Kanwil Kemenkumham Jabar Dorong Pendaftaran Indikasi Geografis Akar Wangi Garut

(Kanwil Kemenkum RI)
Pontensi indikasi geografis Garut (Kanwil Kemenkum RI)
0 Komentar

RADARGARUT– Pada Kamis, 19 Februari 2026, Kepala Divisi Pelayanan Hukum dan Hak Asasi Manusia Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan HAM Provinsi Jawa Barat, Hemawati BR Pandia, bersama tim dari Bidang Pelayanan Kekayaan Intelektual (KI), melakukan kunjungan kerja penting ke Kabupaten Garut.

Kegiatan utama dalam kunjungan tersebut adalah inventarisasi serta pendampingan potensi pendaftaran Indikasi Geografis untuk komoditas Akar Wangi khas Garut.

Kunjungan ini disambut langsung oleh Ketua Masyarakat Perlindungan Indikasi Geografis Akar Wangi Garut, Edde Kadarusman.

Baca Juga:Harga Emas Antam Hari Ini 21 Februari 2026: Melonjak Tajam ke Rp2,94 Juta, Cek Rincian Lengkapnya!Viral Pamer Paspor Anak WNA, Dwi Sasetyaningtyas Eks LPDP Akhirnya Minta Maaf Terbuka

Dalam pertemuan tersebut, Hemawati menjelaskan bahwa tujuan kedatangan tim adalah untuk melakukan pendataan secara mendalam terhadap potensi komoditas Akar Wangi, sekaligus mendorong proses pendaftaran Indikasi Geografis agar dapat segera terealisasi.

Akar Wangi Garut bukan sekadar tanaman biasa, komoditas ini telah dikenal luas sebagai salah satu produk unggulan daerah yang bahkan memiliki reputasi di tingkat internasional.

Hasil inventarisasi lapangan menunjukkan bahwa Akar Wangi Garut menyimpan potensi ekonomi yang luar biasa besar.

Saat ini, terdapat sekitar 2.000 petani yang menggarap lahan seluas kurang lebih 200 hektare.

Para petani ini tergabung dalam sekitar 10 kelompok tani, dengan jumlah anggota per kelompok berkisar antara 100 hingga 200 orang.

Pusat produksi utama terkonsentrasi di beberapa kecamatan, yaitu Samarang, Pasirwangi, Cilawu, dan Bayongbong.

Daerah-daerah ini menjadi sentra utama budidaya tanaman akar wangi yang kualitasnya diakui tinggi.

Baca Juga:Penataan PKL Garut 2026: Pemkab Siapkan 500 Lapak di Garut Plaza dan Sterilkan Trotoar Ahmad YaniGoogle Pixel 10a Resmi Meluncur: Spesifikasi, Harga, dan Fitur AI Terbaru 2026

Selain itu, sektor ini mampu menyerap tenaga kerja dalam skala besar. Diperkirakan sekitar 10.000 orang terlibat dalam seluruh rantai produksi, mulai dari proses budidaya di lahan, pengolahan akar menjadi minyak atsiri, hingga tahap distribusi dan pemasaran.

Nilai ekonominya pun sangat menjanjikan. Harga minyak akar wangi di tingkat petani mencapai sekitar Rp2.000.000 per kilogram, sementara di tingkat eksportir harganya bisa melonjak hingga Rp3.000.000 per kilogram. Angka ini mencerminkan nilai tinggi komoditas tersebut di pasar global.

Minyak yang diekstrak dari akar wangi memiliki peran krusial sebagai bahan baku utama dalam industri parfum.

Aroma khasnya yang dalam dan daya ikat yang kuat membuatnya sangat dicari oleh produsen parfum ternama dunia.

0 Komentar