Diplomasi Prabowo ke Amerika Serikat: Turunkan Tarif Impor AS Hingga Hampir 50%, Ekspor RI Semakin Kompetitif

(Youtube Sekretariat Presiden/radargarut.id)
Hasil dari diplomasi Presiden RI (Youtube Sekretariat Presiden/radargarut.id)
0 Komentar

RADARGARUT– Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto kembali menorehkan prestasi diplomasi ekonomi internasional melalui kunjungan kerjanya ke Amerika Serikat pada Februari 2026.

Dalam pertemuan bilateral dengan Presiden AS Donald Trump di Washington DC, kedua pemimpin menandatangani Agreement on Reciprocal Trade atau Perjanjian Tarif Resiprokal pada 19 Februari 2026.

Kesepakatan bersejarah ini berhasil menurunkan tarif impor AS terhadap produk Indonesia dari 32% menjadi 19% ini setara dengan penurunan hampir 50% sekaligus membuka akses pasar lebih luas bagi ekspor unggulan Indonesia.

Baca Juga:Harga Emas Antam Hari Ini 21 Februari 2026: Melonjak Tajam ke Rp2,94 Juta, Cek Rincian Lengkapnya!Viral Pamer Paspor Anak WNA, Dwi Sasetyaningtyas Eks LPDP Akhirnya Minta Maaf Terbuka

Kunjungan Prabowo ke Amerika Serikat bukan sekadar agenda politik, melainkan misi strategis untuk mengamankan kepentingan ekonomi nasional di tengah kebijakan proteksionisme global.

Sejak awal 2025, pemerintah AS sempat mengancam mengenakan tarif hingga 32% pada barang impor dari Indonesia sebagai bagian dari kebijakan tarif resiprokal Donald Trump.

Ancaman ini berpotensi merugikan ekspor Indonesia yang mencapai miliaran dolar setiap tahunnya ke pasar AS, mitra dagang terbesar kedua setelah China.

Melalui diplomasi maraton yang melibatkan tujuh kali kunjungan ke Washington dan lebih dari 19 pertemuan teknis dengan United States Trade Representative, tim ekonomi Indonesia di bawah koordinasi Menko Perekonomian Airlangga Hartarto berhasil mencapai titik temu.

Diplomasi personal Prabowo dengan Trump menjadi kunci utama, sebagaimana diungkap Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya.

Pertemuan ini juga berbarengan dengan agenda KTT perdana Board of Peace inisiasi Trump, menunjukkan pendekatan holistik Indonesia dalam diplomasi ekonomi sekaligus kontribusi global.

Inti dari Agreement on Reciprocal Trade adalah tarif resiprokal 19% untuk sebagian besar produk Indonesia ke AS, turun signifikan dari ancaman awal 32%.

Baca Juga:Penataan PKL Garut 2026: Pemkab Siapkan 500 Lapak di Garut Plaza dan Sterilkan Trotoar Ahmad YaniGoogle Pixel 10a Resmi Meluncur: Spesifikasi, Harga, dan Fitur AI Terbaru 2026

Penurunan ini setara dengan pemangkasan hampir 50%, memberikan keuntungan kompetitif besar bagi pelaku usaha Indonesia.

Beberapa poin krusial dalam kesepakatan ini adalah 1.819 pos tarif produk Indonesia mendapat fasilitas tarif 0%, termasuk komoditas unggulan seperti minyak kelapa sawit, kopi, kakao, rempah-rempah, karet, komponen elektronik termasuk semikonduktor, hingga komponen pesawat terbang.

Sektor tekstil dan apparel mendapat pengecualian khusus melalui mekanisme Tariff-Rate Quota, yang berdampak positif pada sekitar 4 juta pekerja tekstil dan 20 juta masyarakat terkait rantai pasoknya.

0 Komentar