Pesona 213 Penari Cilik di Hari Jadi Garut ke-213: Lestarikan Budaya Lewat Tari Rampak Rayak-Rayak

(Youtube/radargarut.id)
Tari Rampak memeriahkan Hari Jadi Garut ke-213 (Youtube/radargarut.id)
0 Komentar

RADARGARUT– Pemandangan berbeda terlihat di pusat Kabupaten Garut pada Rabu, 18 Februari 2026.

Suasana khidmat upacara peringatan Hari Jadi Garut ke-213 seketika berubah menjadi meriah dan penuh warna saat ratusan anak-anak memasuki area tengah Alun-Alun Garut.

Sebanyak 213 penari cilik tampil memukau membawakan Tari Rampak Rayak-Rayak, sebuah persembahan seni kolosal yang menjadi ikon perayaan tahun ini.

Baca Juga:Wujudkan Toleransi dan Keamanan: Polres Garut Perketat Penjagaan Vihara Selama Perayaan Imlek 2577Pesona Janur Kuning di Sepanjang Jalan Kota, Jadi Simbol Harapan di Hari Jadi Garut ke-213

Angka 213 bukan sekadar jumlah peserta, melainkan simbol usia Kabupaten Garut yang kini resmi memasuki tahun ke-213 sejak berdiri pada 1813 silam. Kehadiran para penari cilik ini memberikan napas baru dalam pelestarian budaya Sunda di “Kota Intan”.

​Filosofi Tari Rampak Rayak-Rayak

​Tari Rampak Rayak-Rayak merupakan tarian kreasi yang menggabungkan unsur kegembiraan, kebersamaan, dan ketangkasan.

Dalam bahasa Sunda, “Rampak” berarti serempak atau bersama-sama, sementara “Rayak-Rayak” menggambarkan suasana suka cita yang meluap.

​Para penari cilik yang berasal dari berbagai sanggar seni dan sekolah dasar di Kabupaten Garut ini tampil dengan sinkronisasi gerakan yang apik.

Dengan iringan musik kendang yang dinamis, mereka menunjukkan bahwa keterbatasan usia bukan penghalang untuk menjaga warisan leluhur.

​Persiapan Matang di Balik Layar

Keberhasilan penampilan kolosal ini tidak lepas dari latihan intensif yang dilakukan selama berminggu-minggu.

Di bawah bimbingan para pelatih seni dari Dewan Kesenian Garut, anak-anak ini berlatih untuk menyelaraskan gerakan tangan, langkah kaki, hingga ekspresi wajah.

Baca Juga:Rayakan Hari Jadi Garut 213 melalui Pagelaran NawasenaMembingkai "Swiss van Java", Menelusuri Jejak Priangan di Garut Tempo Doeloe (1910–1920)

​”Melibatkan anak-anak dalam acara besar seperti HJG adalah cara terbaik untuk menanamkan rasa bangga terhadap budaya lokal sejak dini,” ujar salah satu koordinator lapangan.

Kostum yang mereka kenakan pun dirancang khusus dengan warna-warna cerah yang mencerminkan semangat masa depan Garut yang gumiwang atau gemilang.

​Makna Strategis bagi Pariwisata Garut

​Penampilan 213 penari cilik ini bukan hanya sekadar hiburan bagi tamu undangan dan warga yang hadir, tetapi juga menjadi strategi promosi wisata budaya.

Pemkab Garut melalui Dinas Pariwisata dan Kebudayaan berupaya menjadikan helaran seni kolosal sebagai daya tarik bagi wisatawan domestik maupun mancanegara.

​Momentum ini juga dimanfaatkan untuk meluncurkan kembali kampanye mencintai kesenian daerah di tengah gempuran tren budaya asing di era digital.

0 Komentar