GARUT – Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, menyoroti terkait tata ruang di Kabupaten Garut. Menurutnya, dari mulai pegunungan, persawahan di Garut jangan hanya jadi cerita, artinya harus berfungsi sebagaimana mestinya.
“Secepatnya Pak Bupati harus perbaiki tata ruang Garut, dari mulai Gunung harus kaya, tebing harus ditanami bambu, dataran rendah jadikan pesawahan, agar tidak menjadi cerita jika tidak segera diperbaiki tata ruangnya,” ujarnya saat menghadiri Rapat Paripurna Istimewa di DPRD Garut, pada Rabu 18 Februari.
KDM sapaan akrabnya, menyoroti terkait Hortikultura, bahwa tradisi Hortikultura tidak cocok dengan wilayah di Garut, karena harus mencari kondisi tanah yang dingin. Sehingga, hortikultura jika tidak dilakukan dengan baik akan menyebabkan bencana terjadi.
Baca Juga:Jelang Puasa Harga Bahan Pokok di Pasar Ciawitali Garut Naik SignifikanRefleksi HJG ke-213, Bupati Garut Soroti Kemiskinan hingga Infrastruktur
“Tradisi Hortikultura sebenarnya tidak cocok dengan wilayah kita, kol makanan eropa, wortel makanan eropa, tanahnya pun mencari yang dingin, maka petani mencari tanah dingin naik ke atas gunung guntur, Cikuray, karena kualitasnya disana, tapi jika kualitas Hortikultura tidak diberhentikan, Hortikultura berhasil tapi banjir bandang, longsor dimana mana, recovery triliun,” katanya.
Ia mengungkapkan, akan terjadinya eksploitasi terhadap para petani, sebagai contoh para pekerja tani diberi upah dari mulai Rp30 hingga Rp40 ribu, sedangkan di era program MBG ini hortikultura harganya naik.
“Tapi di era MBG sekarang Hortikultura naik harganya sekarang, tapi para pekerja nya tetap mendapatkan upah segitu,” ungkapnya.
Tak hanya itu, ia juga menyoroti terkait kondisi di wilayah Garut Selatan, terutama di wilayah pantai, karena masih banyak permasalahan yang sering terjadi, dan menyangkut pariwisata itu sangat sensitif.
“Ke Garut Selatan saya melihat, warung-warung kedepan akan ditata, preman nya pinggirkan, karena cerita pariwisata itu sensitif, urusan tiket 5 rb bisa ramai, sehingga harus diperbaiki bersama, tambak udang harus dibatasi, karena itu penyakit jika sudah tidak ada untung akan ditinggalkan akan berantakan,” ungkapnya.
Menurutnya, melihat para pengusaha pariwisata di wilayah Cipanas, di jalan menuju pemandian Cipanas banyak para pengusaha yang menyewakan tempatnya untuk acara nikahan, sehingga menyebabkan kemacetan.
“Terkait pengusaha pariwisata terutama di Cipanas, jangan sampai menyewakan tempat untuk acara ketika di hari Minggu, selalu macet ketika piknik melewati jalan yang ada hajat nikahan, harus ada aturan jam pariwisata, judulnya kan Pariwisata itu harus relaksasi bukan untuk depresi, karena sektor yang mendapatkan keuntungan besar daerah itu langsung ke kas daerah, yang tidak usah merusak gunung, tidak merusak alam, justru bisa menjaga alam wisata,” tambahnya.
