Investasi Emas di Tahun 2026: Apakah Masih Menguntungkan atau Justru Merugikan?

(Freepik/radargarut.id)
Investasi emas (Freepik/radargarut.id)
0 Komentar

2. Bukan Instrumen Jangka Pendek

Emas sangat tidak disarankan untuk spekulasi jangka pendek. Mengingat adanya spread di atas, emas baru akan memberikan keuntungan nyata jika disimpan dalam jangka waktu minimal 5 hingga 10 tahun. Emas adalah permainan kesabaran, bukan cara cepat kaya.

3. Biaya Penyimpanan dan Keamanan

Memiliki emas fisik berarti Anda harus memikirkan tempat penyimpanan yang aman.

Menyimpannya di rumah berisiko pencurian, sementara menyimpannya di Safe Deposit Box (SDB) di bank membutuhkan biaya sewa tahunan yang akan mengurangi margin keuntungan Anda.

Emas Fisik vs Emas Digital: Mana yang Lebih Baik di 2026?

Baca Juga:Wujudkan Toleransi dan Keamanan: Polres Garut Perketat Penjagaan Vihara Selama Perayaan Imlek 2577Pesona Janur Kuning di Sepanjang Jalan Kota, Jadi Simbol Harapan di Hari Jadi Garut ke-213

Perkembangan teknologi telah mengubah cara kita berinvestasi emas. Kini Anda punya dua pilihan utama:

Emas Fisik

Cocok bagi Anda yang memiliki kepuasan psikologis jika memegang aset secara langsung. Namun, Anda harus membayar biaya cetak dan memikirkan keamanannya.

Emas Digital

Sangat populer di tahun 2026 karena kepraktisannya. Anda bisa mulai menabung emas hanya dengan Rp10.000 melalui aplikasi.

Keuntungannya adalah tidak ada risiko kehilangan fisik dan tidak ada biaya penyimpanan, namun pastikan platform tersebut diawasi oleh BAPPEBTI.

Investasi emas akan menjadi keuntungan besar jika tujuannya adalah untuk dana pendidikan anak 10 tahun ke depan, dana naik haji, atau dana pensiun. Emas akan melindungi nilai uang Anda dari kehancuran ekonomi.

Sebaliknya, emas akan terasa merugikan jika Anda menggunakan uang untuk kebutuhan sehari-hari dan berharap mendapatkan profit dalam waktu satu atau dua bulan.

Belilah emas secara bertahap setiap bulan tanpa terlalu pusing memikirkan naik-turunnya harga harian.

Baca Juga:Rayakan Hari Jadi Garut 213 melalui Pagelaran NawasenaMembingkai "Swiss van Java", Menelusuri Jejak Priangan di Garut Tempo Doeloe (1910–1920)

Strategi ini disebut Dollar Cost Averaging, yang terbukti efektif meminimalisir risiko harga tinggi. (*)

0 Komentar