RADARGARUT– Di tengah dinamika ekonomi global tahun 2026 yang penuh ketidakpastian, banyak masyarakat kembali bertanya, “Apakah beli emas untuk investasi itu pasti untung, atau justru berisiko rugi?”
Pertanyaan ini sangat relevan, terutama bagi mereka yang ingin mengamankan nilai kekayaan dari hantaman inflasi yang kian terasa.
Emas telah menjadi simbol kekayaan selama ribuan tahun. Namun, sebagai instrumen investasi modern, emas memiliki karakteristik unik yang harus dipahami sebelum Anda memutuskan untuk mengalokasikan dana. Mari kita bedah secara mendalam dari berbagai sisi.
Baca Juga:Wujudkan Toleransi dan Keamanan: Polres Garut Perketat Penjagaan Vihara Selama Perayaan Imlek 2577Pesona Janur Kuning di Sepanjang Jalan Kota, Jadi Simbol Harapan di Hari Jadi Garut ke-213
Mengapa Emas Disebut Investasi Paling Aman
Emas sering disebut sebagai aset safe haven. Artinya, emas cenderung mempertahankan nilainya atau bahkan melonjak saat pasar saham atau mata uang sedang jatuh. Berikut adalah beberapa alasan mengapa emas tetap menjadi primadona:
Lindung Nilai Terhadap Inflasi
Sejarah membuktikan bahwa daya beli emas cenderung stabil. Jika dulu satu dinar emas bisa membeli seekor kambing, ribuan tahun kemudian nilai emas yang sama masih memiliki daya beli yang setara.
Ini berbeda dengan uang kertas yang nilainya terus tergerus inflasi setiap tahun.
Likuiditas yang Sangat Tinggi
Berbeda dengan properti yang butuh waktu berbulan-bulan untuk terjual, emas sangat mudah dicairkan menjadi uang tunai. Anda bisa menjualnya di toko emas, Pegadaian, atau melalui platform emas digital dalam hitungan menit.
Diversifikasi Portofolio
Para ahli keuangan selalu menyarankan semboyan “Don’t put all your eggs in one basket“.
Dengan memiliki emas, Anda memiliki “ban serep” ketika aset investasi lain seperti kripto atau saham sedang mengalami koreksi tajam.
Risiko dan Potensi “Rugi” dalam Investasi Emas
Meski terlihat sangat menggiurkan, investasi emas bukan tanpa celah. Banyak investor pemula yang merasa “rugi” karena kurangnya edukasi mengenai mekanisme pasar emas. Berikut adalah beberapa poin yang perlu diwaspadai:
1. Adanya Selisih Harga
Baca Juga:Rayakan Hari Jadi Garut 213 melalui Pagelaran NawasenaMembingkai "Swiss van Java", Menelusuri Jejak Priangan di Garut Tempo Doeloe (1910–1920)
Inilah penyebab utama mengapa orang merasa rugi saat baru membeli emas. Spread adalah selisih antara harga jual dan harga beli kembali. Biasanya, selisih ini berkisar antara 10% hingga 15%.
Contoh Sederhana: Jika Anda membeli emas hari ini seharga Rp1.300.000 per gram, harga buyback-nya mungkin hanya Rp1.150.000. Jika Anda menjualnya di hari yang sama, Anda otomatis merugi.
