RADARGARUT– Kabupaten Garut kembali bersolek. Memasuki bulan Februari 2026, pemandangan berbeda tampak di sepanjang jalan protokol, mulai dari kawasan Tarogong, Jalan Ahmad Yani, hingga area pusat pemerintahan.
Lambaian janur kuning yang terpasang rapi di depan kantor pemerintahan, sekolah, hingga pertokoan menjadi penanda utama bahwa “Kota Intan” sedang merayakan Hari Jadi Garut (HJG) ke-213.
Tradisi pemasangan janur ini bukan sekadar dekorasi pemanis jalanan. Di balik helai daun kelapa muda yang kekuningan tersebut, tersimpan filosofi mendalam dan doa kolektif masyarakat Garut untuk masa depan yang lebih gemilang.
Baca Juga:Semarak Imlek 2026 di Garut: Tradisi di Vihara Dharmaloka Hingga Lonjakan WisatawanSidang Isbat 2026: Kapan Awal Puasa Ramadan 1447 H Dimulai? Cek Prediksinya!
Makna Filosofis Janur Kuning: “Sejatine Nur”
Bagi masyarakat Sunda dan Jawa, janur memiliki arti etimologis yang sakral. Secara filosofis, kata janur berasal dari frasa “Sejatine Nur” yang berarti Cahaya Sejati.
Dalam konteks perayaan Hari Jadi Garut ke-213, pemasangan janur melambangkan harapan agar Kabupaten Garut senantiasa diberikan petunjuk, keberkahan, dan kejayaan (Tanjeur Dangiang).
Warna kuning pada janur juga melambangkan kemurnian, kebahagiaan, dan sifat pengayoman. Dengan memasang janur di sepanjang jalan, Pemerintah Kabupaten Garut seolah sedang memanjatkan doa visual agar seluruh warga Garut hidup dalam harmoni dan kesejahteraan.
Tema HJG 213: Garut Gumiwang Tanjeur Dangiang
Tahun 2026 ini, HJG ke-213 mengusung tema “Garut Gumiwang Tanjeur Dangiang”. Tema ini sangat selaras dengan simbolisme janur kuning:
- Gumiwang: Bersinar atau bercahaya, selaras dengan makna Nur pada janur.
- Tanjeur: Berdiri tegak dan kokoh.
- Dangiang: Aura wibawa dan kehormatan.
Menurut imbauan resmi dari Pemkab Garut, pemasangan ornamen tradisional seperti janur kuning dan umbul-umbul bernuansa biru-kuning dilakukan serentak sejak pertengahan Februari, dengan puncak perayaan pada Rabu, 18 Februari 2026.
Pemandangan janur kuning di sepanjang jalan juga menjadi daya tarik wisata tersendiri.
Wisatawan yang melintasi Garut disuguhi nuansa “Garut Tempo Doeloe” yang kental. Hal ini menunjukkan komitmen pemerintah daerah untuk tetap menjaga jati diri budaya di tengah arus modernisasi.
Selain janur, rangkaian HJG 213 juga dimeriahkan dengan berbagai kegiatan seperti:
Baca Juga:Persib vs Borneo FC: Duel Sengit Papan Atas Liga 1 2025/2026 yang Ditunggu FansFenomena "Tembok Ratapan Solo" Viral di Google Maps: Aksi Iseng atau Simbol Politik?
Mapag Gumiwang Ci Garut: Prosesi merawat sumber air sebagai simbol kehidupan.
