Di Balik Estetika: Modernitas dan Dinamika Sosial
Namun, pameran ini tidak hanya menjual romantisme visual. Di balik foto-foto jalan raya yang lebar, jembatan-jembatan beton yang kokoh, dan gedung pemerintahan yang tertata rapi, tersimpan realitas sosial yang kompleks.
Pembangunan infrastruktur yang pesat di Garut pada awal abad ke-20 adalah hasil dari sistem administrasi kolonial yang terstruktur, yang di dalamnya terdapat jejak kerja paksa, sistem perkebunan yang ketat, dan stratifikasi sosial yang tajam antara penguasa dan rakyat pribumi.
Gedung-gedung administrasi yang tampak megah merupakan simbol kontrol. Foto-foto masyarakat lokal yang sedang beraktivitas baik sebagai buruh perkebunan maupun pelayan hotel menjadi pengingat bahwa merekalah penggerak roda ekonomi yang sebenarnya di balik layar kemewahan Swiss van Java.
Baca Juga:Semarak Imlek 2026 di Garut: Tradisi di Vihara Dharmaloka Hingga Lonjakan WisatawanSidang Isbat 2026: Kapan Awal Puasa Ramadan 1447 H Dimulai? Cek Prediksinya!
Merawat Ingatan untuk Masa Depan
Pameran “Garut Tempo Doeloe” adalah sebuah undangan untuk membaca ulang sejarah secara kritis.
Foto-foto ini adalah arsip hidup yang membuktikan bagaimana identitas Garut dibentuk melalui persilangan budaya, adaptasi terhadap alam, dan ketangguhan masyarakatnya dalam menghadapi perubahan zaman.
Menatap Garut dari lensa 100 tahun yang lalu bukan sekadar kegiatan nostalgia yang pasif. Ini adalah upaya untuk merawat ingatan kolektif.
Dengan memahami bagaimana kota ini tumbuh, kita dapat lebih menghargai setiap sudut Garut hari ini.
Sejarah bukan untuk ditinggalkan, melainkan untuk dibawa sebagai kompas menuju masa depan yang lebih bermakna. (*)
