Membingkai "Swiss van Java", Menelusuri Jejak Priangan di Garut Tempo Doeloe (1910–1920)

(Dipusip Garut/radargarut.id)
Garoet Tempo Doeloe (Dipusip Garut/radargarut.id)
0 Komentar

RADARGARUT– Bertepatan dengan perayaan Hari Jadi Garut ke-213, pelataran Pendopo Garut bertransformasi menjadi sebuah lorong waktu.

Melalui pameran bertajuk “Garut Tempo Doeloe”, masyarakat diajak untuk melintasi dimensi masa lalu, kembali ke dekade 1910-an hingga 1920-an, sebuah era keemasan di mana Garut bukan sekadar kota di pedalaman Jawa, melainkan permata yang dijuluki dunia sebagai “Swiss van Java”.

Pameran yang bersumber dari arsip visual Dispusip Garut ini menyajikan potret-potret hitam putih yang membekukan waktu.

Baca Juga:Semarak Imlek 2026 di Garut: Tradisi di Vihara Dharmaloka Hingga Lonjakan WisatawanSidang Isbat 2026: Kapan Awal Puasa Ramadan 1447 H Dimulai? Cek Prediksinya!

Melalui lensa para fotografer era Hindia Belanda, kita dibawa melihat wajah Garut saat bentang alamnya masih murni namun mulai bersinggungan dengan modernitas Barat.

Pesona Alam dan Narasi Wisata Kolonial

Pada awal abad ke-20, Garut merupakan destinasi favorit kaum elite Eropa. Kawasan Cipanas yang terletak di kaki Gunung Guntur menjadi daya tarik utama.

Foto-foto yang dipamerkan memperlihatkan pemandian air panas yang masih dikelilingi vegetasi rimbun dan uap yang membubung dari tanah.

Pemerintah kolonial saat itu dengan cerdik mempromosikan panorama pegunungan Garut sebagai replika keindahan Pegunungan Alpen di Eropa.

Kita bisa melihat bagaimana jalan-jalan tanah membelah perbukitan, diapit oleh hamparan kebun yang luas dan suasana pedesaan yang tenang.

Garut kala itu adalah sebuah simfoni alam tempat di mana udara dingin pegunungan bertemu dengan keramahan tanah Priangan yang subur.

Kemegahan Arsitektur dan Ruang Sosial Elite

Salah satu sorotan utama dalam pameran ini adalah dokumentasi Hotel Papandayan. Sebagai hotel paling mewah di Priangan pada masanya, bangunan ini berdiri dengan gaya arsitektur kolonial yang mengadaptasi unsur tropis dengan langit-langit tinggi dan beranda yang luas.

Baca Juga:Persib vs Borneo FC: Duel Sengit Papan Atas Liga 1 2025/2026 yang Ditunggu FansFenomena "Tembok Ratapan Solo" Viral di Google Maps: Aksi Iseng atau Simbol Politik?

Hotel ini bukan sekadar penginapan, melainkan episentrum kehidupan sosial para pejabat kolonial, pengusaha perkebunan teh dan pelancong mancanegara.

Tak kalah memesona adalah Hotel Ngamplang. Berada di dataran tinggi, hotel ini menawarkan pemandangan lapangan golf yang legendaris.

Dalam foto-foto tersebut, kita bisa membayangkan suasana sore, percakapan dalam bahasa Belanda di beranda, denting gelas porselen, dan suara delman yang sesekali melintas. Dokumentasi ini menunjukkan betapa Garut telah menjadi ruang eksklusivitas yang mapan.

0 Komentar