Garut 213 Tahun, Sudah Mencintai atau Sedang Mencari 'Bati'?

Radar Garut
Catatan Ceng Igo
0 Komentar

Penulis meyakini bahwa cukup banyak orang yang telah mengetahui segala persoalan yang dihadapi dari Garut saat ini. Namun sebagian dari mereka atau bahkan kita, memilih diam dan menutup telinga juga mata, dengan segala pertimbangannya.

Abah saya di sering kesempatan, bila membahas tentang negara atau bila diperkecil menjadi kabupaten, selalu menyampaikan bahwa proses pembangunan dan perbaikan akan berjalan bisa mengacu pada tiga hal. Ketiga hal tersebut adalah, 1. Ilmunya para ulama/orang yang berilmu, 2. Adilnya pelaksana/penguasa/pekerja pemerintah, 3. Ikhlasnya orang-orang fakir.

Ulama atau orang berilmu, tentunya bukan mengacu pada hal yang sifatnya agama saja. Orang berilmu dan pemerintah atau penguasa memiliki keterkaitan, karena mereka ‘seharusnya’ memanfaatkan ilmunya untuk pembangunan dan kesejahteraan masyarakat.

Baca Juga:Gebyar Posyandu Puskesmas Cilawu, Percepat Penurunan Stunting dan Pastikan Cakupan Layanan 100 PersenSambut Ramadhan, Rutan Garut Gelar Kerja Bakti di Masjid Islamic Centre

Namun tidak jarang, yang terjadi kemudian antara orang berilmu dan pekerja pemerintah malah memanfaatkan orang fakir untuk mencari keuntungan. Ilmu dan kekuasaan yang seharusnya menghasilkan produk pembangunan dan kesejahteraan bernilai cinta dan kasih, malah menjelma menjadi ‘pangeretan’.

Ironi? Tergantung siapa yang memandang, karena ternyata faktanya ada yang mewajarkan. Bila mengacu pada hakikatnya, tentu saja hal tersebut adalah kedurjanaan.

Orang fakir dan miskin, tidak jarang memang dijadikan objek kepentingan dibanding disayangi dan dimuliakan. Mereka juga seringkali dijadikan alat untuk mengukur keberhasilan sesuatu hal oleh salah satu atau kelompok orang tertentu.

Akurasi data kemiskinan, di Garut saja, siapa yang bisa menjamin keakuratannya bila pengujian hanya dilakukan oleh orang kesekian yang, mungkin, bisa jadi, bukan ahlinya. Ya seperti pendataan kawasan persawahan yang sering berubah jadi perumahan atau pabrik, namun target hasil selalu surplus lah kira-kira.

Bila semua jujur karena mengacu pada rasa cinta dan kasih kepada rakyat, bisa jadi, setiap data apapun akan disajikan apa adanya. Namun terkadang, kesenangan pimpinan itu lebih dicari dibanding menyampaikan fakta.

Garut, konon, kini telah berusia 213 tahun, mengacu pada awal mula pindahnya pusat kota dari Limbangan ke kawasan perkotaan saat ini. Dengan berbagai ceritanya, tentu saja, dari bahagia hingga duka.

0 Komentar