Oleh: Iqbal Gojali – Santri
KABUPATEN Garut adalah tempat lahir penulis, tepatnya di wilayah Kecamatan Samarang, tempat tinggal almarhumah mamah saya sebelum menikah dengan abah. Selama berpuluh-puluh tahun saya tinggal di Garut, dan bohong kalau saya tidak cinta.
Masa kecil saya di lingkungan Pesantren Pondok Penulis wilayah Kecamatan Banyuresmi sampai Sekolah Dasar, lalu mesantren di Kampung Damai wilayah Kecamatan Kersamanah, dan kemudian berkuliah di universitas paling berpendidikan di Indonesia yang masuknya Jurusan Pendidikan Bahasa Asing. Saya kembali ke Garut tentu saja setelah beberapa tahun kuliah.
Membicarakan cinta, tentu tidak hanya bisa menggunakan satu variabel untuk mengungkapkannya. Setiap orang memiliki caranya, ada yang hanya dengan perkataan, perbuatan, bahkan hanya disimpan dalam hati saja.
Baca Juga:Gebyar Posyandu Puskesmas Cilawu, Percepat Penurunan Stunting dan Pastikan Cakupan Layanan 100 PersenSambut Ramadhan, Rutan Garut Gelar Kerja Bakti di Masjid Islamic Centre
Para aktivis mahasiswa dan lainnya, bisa jadi, salah satu cara mengaktualisasikan rasa cintanya dengan mengkritik kebijakan yang dinilai tidak sesuai. Ada juga yang memilih melaporkan kekeliruan dengan harapan terjadi perubahan.
Mereka para pecinta lingkungan juga mengaktualisasikan dengan caranya. Pun demikian dengan mereka aparat TNI-Polri, Kejaksaan, Hakim, hingga para aparatur sipil negara (ASN) mengaktualisasikan cintanya dengan caranya juga.
Namun yang harus diingat, tidak jarang juga ada sifat pura-pura cinta dan hanya mencari keuntungan dari kepura-puraannya itu. Seperti pasangan kekasih, terkadang ada saja yang berniat mencari keuntungan dari hubungan yang dibangun, baik dari laki-laki atau perempuannya, kecil ataupun besar.
Untuk Garut, mungkin saja, ada mereka yang mengaku cinta tapi nyatanya hanya mengambil keuntungan semata, baik untuk pribadi atau kelompoknya. Seperti, mungkin, mengkritik agar dapat keripik, bekerja agar dapat kuda, atau bahkan menyanjung untuk memiliki payung.
Garut hari ini bukanlah masa lalu dengan segala ceritanya. Positif dan negatif pasti ada saja, disesuaikan dengan zamannya, karena manusia tetaplah memiliki hawa nafsu atau keinginan akan hal-hal yang bersifat duniawi, bukan akhirat saja.
Garut saat ini dihadapkan dengan berbagai persoalan yang cukup pelik, dari sisi pendidikan, ekonomi, hingga kesehatan. Hal-hal tersebut tentunya hanya akan bisa diselesaikan dengan langkah yang pasti didasari rasa cinta yang sesungguhnya, bukan hanya pura-pura.
