GARUT – Tepat tanggal 16 Februari 2026, bertepatan dengan Hari Jadi Garut (HJG) ke 213, dibalik perayaan HJG terdapat beberapa catatan penting hasil diskusi dari Organisasi Cipayung Garut.
Organisasi Cipayung Kabupaten Garut, beberapa waktu lalu menggelar diskusi publik yang bertajuk “Mimbar Cipayung Garut”.
Forum ini menjadi ruang refleksi kritis atas tema pembangunan daerah yang dinilai semakin jauh dari realitas masyarakat.
Baca Juga:Dibalik Tragedi Pembunuhan Eks Kampung Gajah: Sosok Korban dan Pelaku Ternyata Teman Masa KecilLapas Garut Gelar Baksos, Bagikan Paket Sembako dan Layanan Kesehatan Gratis
Diskusi publik Cipayung ini, menghadirkan unsur Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI), Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), dan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI).
Dalam forum tersebut, para peserta mengangkat pertanyaan tajam:
Sudahkah Garut Hebat? Hebat tambangnya, hebat miskinnya, atau hebat nepotismenya?
Ketua Pengurus Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PC PMII) Garut, Adrian Hidayat, mengatakan tema Hari Jadi Garut berisiko hanya menjadi simbol politik tanpa evaluasi jujur terhadap kondisi daerah.
Meski Garut kaya akan potensi alam, khususnya pertambangan dan pariwisata, Garut masih menghadapi masalah kemiskinan, ketimpangan, dan tata kelola pemerintahan.
“Jika kekayaan alam terus dieksploitasi tanpa keberpihakan terhadap rakyat, maka yang hebat bukanlah kesejahteraannya, melainkan paradoksnya,” ujarnya.
Menurut Adrian, diskusi tersebut menyoroti kuatnya kepentingan kelompok dalam relasi kekuasaan, lemahnya penerapan meritokrasi di birokrasi, serta rendahnya transparansi dalam pengelolaan kebijakan publik.
“Menurut peserta diskusi, peringatan hari jadi seharusnya menjadi momentum evaluasi struktural, bukan sekadar seremoni simbolik,” katanya.
Mimbar Cipayung Garut menegaskan, bahwa mahasiswa tidak ingin hanya menjadi penonton tanpa perubahan nyata.
Baca Juga:Sambut Bulan Suci Ramadhan, Petugas dan Warga Binaan Lapas Garut Bersihkan Masjid dan FasumAkar Budaya dalam Cahaya Lampion: Menelusuri Jejak Imlek di Nusantara
Cipayung Plus Garut pun membuka peluang gerakan lanjutan sebagai bentuk kritik, kontrol sosial, dan dorongan moral agar pembangunan berpihak pada rakyat.
Ia menegaskan, bahwa Hari Jadi Garut ini bukan sekedar perayaan atau kemeriahan semata, namun harus berpihak pada rakyat kedepannya.
“Mahasiswa menegaskan bahwa Hari Jadi Garut tidak boleh menjadi “hari jadi-jadian”: meriah di panggung, namun sunyi dalam keadilan, ramai dalam seremoni, namun kosong dalam substansi,” tegasnya.
Sehingga, pihaknya melalui mimbar ini mengajak seluruh elemen masyarakat untuk berani jujur menilai kondisi daerah.
“Pembangunan tidak boleh hanya diukur dari infrastruktur fisik dan perayaan simbolik, tetapi dari keberpihakan terhadap rakyat kecil, keterbukaan pemerintahan, dan distribusi keadilan sosial,” ucapnya.
