Fenomena "Tembok Ratapan Solo" Viral di Google Maps: Aksi Iseng atau Simbol Politik?

(google maps/radargarut.id)
Tampilan google maps kediaman eks Presiden RI yang diganti (google maps/radargarut.id)
0 Komentar

RADARGARUT– Jagad media sosial Indonesia kembali dihebohkan dengan sebuah fenomena digital yang unik sekaligus kontroversial.

Nama “Tembok Ratapan Solo” mendadak muncul sebagai titik lokasi di Google Maps, tepat di titik koordinat kediaman mantan Presiden Joko Widodo di Kelurahan Sumber, Solo.

Apa yang sebenarnya terjadi, dan mengapa pencarian terkait topik ini melonjak tajam? Mari kita bedah fenomena yang tengah menjadi perbincangan hangat di awal tahun 2026 ini.

Baca Juga:Respons Cepat Aduan 110, Polisi Urai Kemacetan Panjang Akibat Mobil Mogok di SamarangNo Na: Girl Group Indonesia yang Makin Melejit dan Go International di 2026

Kronologi Munculnya Titik “Tembok Ratapan Solo”

Fenomena ini bermula ketika pengguna media sosial di platform X dan TikTok membagikan tangkapan layar pencarian Google Maps di area Solo.

Dalam peta tersebut, muncul sebuah penanda lokasi baru bertuliskan “Tembok Ratapan Solo”.

Istilah “Tembok Ratapan” sendiri merupakan referensi langsung pada situs suci di Yerusalem.

Namun, dalam konteks lokal Solo, penamaan ini diduga kuat merupakan bentuk ekspresi politik atau sindiran dari pengguna internet tertentu.

Karena sistem Google Maps memungkinkan pengguna untuk menyarankan nama tempat atau menambahkan titik baru, celah inilah yang dimanfaatkan untuk menciptakan tren viral tersebut.

Ada beberapa faktor yang menyebabkan topik ini menjadi pencarian populer di Google:

Unsur Kontroversi: Penamaan lokasi yang identik dengan tempat ibadah atau situs sejarah dunia pada rumah tokoh publik tentu memicu perdebatan sengit antara pendukung dan kritikus.

Baca Juga:Harga Sembako Hari Ini Jelang Ramadhan 2026: Tren Kenaikan Mulai Terasa, Masyarakat Diimbau WaspadaNilai Tukar Rupiah Hari Ini 17 Februari 2026: Update Kurs Terhadap Dolar AS dan Mata Uang Lainnya

Efek “Fear of Missing Out” (FOMO): Banyak orang berbondong-bondong membuka aplikasi Google Maps mereka sendiri untuk membuktikan apakah titik tersebut benar-benar ada sebelum pihak Google melakukan moderasi dan menghapusnya.

Kreativitas Netizen: Indonesia dikenal sebagai negara dengan tingkat aktivitas media sosial yang sangat tinggi. Fenomena Google Maps tagging seringkali menjadi media baru dalam menyampaikan kritik sosial atau sekadar lelucon digital.

Secara teknis, Google memiliki algoritma dan tim moderasi untuk menyaring nama-nama tempat yang dianggap tidak akurat atau bersifat ofensif.

Namun, jika sebuah titik mendapatkan banyak dukungan atau rating dari banyak akun dalam waktu singkat, titik tersebut bisa “bertahan” selama beberapa waktu sebelum akhirnya diturunkan oleh sistem karena melanggar panduan komunitas.

0 Komentar