140 SPPG Di Garut Kantongi SLH, Dinkes Siap Fasilitas Pelatihan Keamanan Pangan Untuk Para Relawan

Rizka
Kabid Kesehatan Masyarakat di Dinkes Garut, dr. Tri Cahyo
0 Komentar

GARUT – 186 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang sudah beroperasi di Garut, kini sebanyak 140 SPPG sudah berhasil mendapatkan Sertifikat Laik Higiene Sanitas (SLHS). Hal tersebut diungkapkan Dinas Kesehatan Kabupaten Garut.

Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat di Dinkes Garut, dr.Tri Cahyo, mengatakan bahwa per tanggal 30 Januari 2026, ada sebanyak 140 SPPG sudah mendapatkan SLHS.

“Ada pun yang berproses, maksudnya berproses itu sudah masuk ke sistem itu adalah sekitar 20-an sudah masuk, tinggal proses verifikasi atau perbaikan gitu,” katanya.

Baca Juga:Ketua DPD PKS Kabupaten Garut Mengucapkan Hari Jadi ke-213 Kabupaten Garut 17 Februari 2026Emak Onah di Garut, Usianya 1 Abad dan Hidup Miskin, Tak Dapat Bansos

Tri menjelaskan, Badan Gizi Nasional (BGN) pusat menganjurkan untuk seluruh relawan SPPG untuk melakukan pelatihan keamanan pangan sebagai salah satu syarat SLHS.

Menurutnya, ketika BGN mengeluarkan Surat Keputusan Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SK SPPI), maka akan diberikan waktu 30 hari untuk mengurus SLHS.

“Secara timeline bakal bisa ketika sudah operasional nanti langsung meminta ke labkesda puskumas untuk mengambil sampel air sekaligus melakukan Inspeksi Kesehatan Lingkungan (IKL), sekaligus meminta ke dinas kesehatan untuk pelatihan keamanan pangan biasanya dalam waktu 10-20 hari semuanya sudah kelar tinggal proses SLHS,” jelasnya.

Ia menerangkan bahwa, setiap relawan SPPG dianjurkan untuk mengikuti pelatihan keamanan pangan ini, agar semuanya mengetahui dan terlibat dalam Higien Sanitasi pangan, karena barang yang diterima harus dalam kondisi baik, laik masak.

Sehingga, kata dia, jangan sampai pihak mitra atau yayasan menerima barang dalam kondisi buruk, serta untuk semua dapur pada saat penerimaan barang dari supplier itu harus disortir, pisahkan barang yang bisa dipakai dan retur barang dalam kondisi buruk.

“Jangan sampai di pihak mitra atau yayasan, menerima barang-barang yang jelek. Misalnya barang kok sudah busuk dimasak, ya tetep aja bahaya. Sehingga pada semua dapur ini tim penerimaan barang itu harus kuat. Barang yang masuk dari Supplier, dari siapapun begitu masuk diperiksa sortir yang bagus terus dipakai, yang jelek retur atau tidak boleh dipakai, nah itu salah satunya,” ucapnya.

Selain itu, kata Tri, tim persiapan pun harus memastikan kebersihan disetiap bahan yang akan dipakai, cuci hingga bersih. Serta, tim pengolahan makanan harus menggunakan pakaian Alat Pelindung Diri (APD), agar makanan tidak terkontaminasi.

0 Komentar