“Karena ini diduga akan ada kenaikan menghadapi meningkatnya permintaan menjelang bulan puasa dan munggahan dan juga nanti lebaran. Sehingga kami tugaskan Pak Kadis untuk terus monitoring dan mencari solusi,” katanya.
Syakur menuturkan, bahwa harga tahun sebelumnya sebagai referensi ditahun sekarang, agar harga ditahun sekarang tidak akan melebihi dari sebelumnya, serta harus mencari sumbernya langsung jika terjadi indikasi kenaikan harga.
Ia mengapresiasi langkah yang dilakukan Oping selaku pedagang sayuran. Karena, mampu mencari solusi jika terjadi ketersediaan stok kurang.
Baca Juga:Respon Keluhan Warga, Polsek Sukawening Tertibkan Sampah Liar di MaripariJelang Perayaan HJG, Dishub Garut Pastikan Tidak ada Rekayasa Lalu lintas Jalan
“Tadi saya juga apresiasi Pak Oping ketika cabai merah agak kurang langsung ambil di tempat lain supaya harganya terkendali. Meskipun misalnya juga unik ya, mestinya kita sebagai produsen ya ada di sini, terpenuhi di sini,” sambungnya.
Syakur menjelaskan terkait penurunan daya beli masyarakat yang sering terjadi. Menurutnya, masyarakat ketika menjelang Ramadhan ini merubah pola konsumsinya, sehingga berpengaruh pada harga menjadi naik, karena stok kurang, sedangkan permintaan tinggi.
“Ada dua hal kan sebenarnya, yang pertama adalah suplai hukum ekonomi. Nah biasanya ketika bulan puasa munggah itu orang itu merubah pola konsumsinya. Tadinya makanan yang murah-murah, sekarang banyak konsumsi daging, ayam, telur, sehingga secara teoritis maka harganya, permintaannya akan naik,” jelasnya.
Namun, kata dia, penurunan daya beli ini bukan hal baru, seharusnya para produsen atau para pedagang ini melakukan perencanaan, sehingga pada saat permintaan tinggi, ketersediaan stok juga akan banyak.
“Tapi juga hukum pasar kadang-kadang juga orang bukan oportunis ya, memanfaatkan peluang. Ketika harga naik, dia mendapatkan keuntungan yang lebih yang selama ini mungkin tidak diperoleh mereka. Tapi kita edukasi supaya jangan berlebihan lah, karena ini jadi atensi dari semua, seperti Pak Presiden Prabowo ya wanti-wanti, Pak Mendagri wanti-wanti, supaya kita bisa menjaga stabilitas harga bahan pokok penting,” katanya.
Yang kedua, lanjut Syakur, ini menjadi tantangan, karena ada keanekaragaman seperti bawang yang berasal dari India. Menurutnya, jika ini menguntungkan untuk Garut, maka seharusnya ditanam di wilayah Garut.
