GARUT – Seekor macan tutul jantan yang sebelumnya masuk ke permukiman warga di wilayah Bandung kini menjalani masa karantina di Lembaga Konservasi Cikembulan, Kabupaten Garut.
Satwa liar tersebut dititipkan oleh Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Jawa Barat untuk menjalani pemeriksaan kesehatan dan observasi perilaku.
Pengelola Lembaga Konservasi Cikembulan, Rudy Arifin, menjelaskan bahwa karantina dilakukan sebagai bagian dari proses pemulihan setelah satwa tersebut terlibat konflik dengan warga.
Baca Juga:Polri Dukung Ketahanan Pangan, Monitoring Serapan Jagung 10 Ton di SukaweningWawan Nurdin Dorong BUMDes di Garut Bisa Pengadaan Barang dan Jasa
“Saat ini macan tutul berada dalam tahap observasi untuk memastikan kondisi kesehatannya stabil sekaligus memantau perilakunya pasca evakuasi,” ujar Rudy kepada wartawan.
Menurut Rudy, tim konservasi bersama petugas BBKSDA secara rutin melakukan pemeriksaan fisik serta pengamatan aktivitas harian satwa, termasuk pola makan dan respons perilaku.
Akses ke area perawatan dibatasi guna menjaga ketenangan hewan selama masa pemulihan.
Langkah tersebut dinilai penting untuk menurunkan tingkat stres akibat interaksi dengan manusia sekaligus menangani luka yang mungkin dialami saat proses evakuasi.
Secara umum, kondisi macan tutul dengan nama ilmiah Panthera pardus tersebut terlihat baik. Dari hasil identifikasi sementara, satwa tersebut berjenis kelamin jantan dengan perkiraan usia remaja.
“Respons makan dan minumnya cukup baik. Ini menjadi indikator awal bahwa kondisinya relatif stabil, meski pemeriksaan lanjutan tetap dilakukan,” tambah Rudy.
Diketahui, kemunculan macan tutul di kawasan permukiman Desa Maruyung, Kecamatan Pacet, Kabupaten Bandung, sempat menghebohkan warga.
Baca Juga:Dapur MBG di Garut Capai 369 Unit, Pelaksanaan Saat Puasa Masih DikajiAwal Tahun 2026 Kasus DBD di Garut Mengalami Penurunan
Satwa itu dilaporkan berkeliaran di sekitar rumah dan area publik, bahkan disebut sempat melukai dua warga sebelum akhirnya berhasil diamankan petugas.
Peristiwa tersebut ramai diperbincangkan setelah rekaman video amatir warga tersebar di media sosial, memperlihatkan macan tutul bergerak di area pemukiman sebelum menuju kawasan terbuka.
Kini, proses karantina di Cikembulan menjadi bagian penting untuk memastikan kondisi satwa pulih sebelum langkah penanganan lanjutan ditentukan oleh otoritas konservasi. (*)
