Jadi jantung Kota Garut, Ini Sejarah Alun-Alun Garut

(Istimewa/radargarut.id)
Alun-alun Garut (Istimewa/radargarut.id)
0 Komentar

RADARGARUT– Alun-Alun Garut, terletak di pusat Kota Garut, Jawa Barat, bukan sekadar lapangan terbuka hijau yang ramai dikunjungi warga setiap hari.

Tempat ini merupakan situs bersejarah penting yang mencerminkan perjalanan panjang Kabupaten Garut dari masa kolonial hingga era modern.

Sebagai titik nol kilometer Garut alun-alun ini menjadi simbol pusat pemerintahan, sosial, dan budaya yang telah ada lebih dari dua abad.

Baca Juga:Nilai Tukar Rupiah Hampir Tembus Rp17.000 per Dolar AS, Ini SebabnyaRamalan Zodiak Hari Ini 11 Februari 2026: Prediksi Lengkap Cinta, Karier, Keuangan & Kesehatan

Awal Mula Pendirian Alun-Alun Garut (Tahun 1813)

Sejarah Alun-Alun Garut dimulai pada masa penjajahan Belanda.

Pada tahun 1811, Gubernur Jenderal Herman Willem Daendels membubarkan Kabupaten Limbangan karena penurunan produksi kopi.

Kemudian, pada 1813, Gubernur Jenderal Thomas Stamford Raffles mengeluarkan keputusan untuk membentuk kembali Kabupaten Limbangan dengan ibu kota di Suci. Namun, lokasi Suci dianggap tidak memadai.

Bupati Limbangan saat itu, Rd. Adipati Aria Adiwijaya, membentuk panitia pencarian lokasi baru.

Akhirnya, dipilihlah sebuah kawasan yang subur dan strategis, yang kemudian diberi nama Garut.

Pada tanggal 15 September 1813, dilakukan peletakan batu pertama pembangunan ibu kota baru, termasuk pendopo, kantor residen, masjid, dan alun-alun sebagai halaman luas di depan pendopo.

Bupati Adiwijaya memerintahkan penanaman banyak pohon agar alun-alun terasa sejuk dan segar, sesuai konsep tradisional alun-alun Jawa yang berfungsi sebagai ruang terbuka untuk kegiatan publik, upacara, dan pengumuman pemerintahan.

Baca Juga:Jejak Peninggalan Belanda di Garut yang Masih Bisa Dilihat Hingga KiniCatat Lokasinya, Ini Spot Jajanan Kaki Lima Malam Hari Paling Ramai di Garut

Di depan pendopo terdapat “Babancong”, semacam panggung atau tempat singgah pejabat Belanda untuk menyampaikan pidato atau kebijakan kolonial.

Babancong yang masih berdiri hingga saat ini menjadi saksi bisu berbagai keputusan penting era Hindia Belanda.

Perkembangan di Masa Kolonial dan Pasca-Kemerdekaan

Pada akhir abad ke-19 (sekitar 1890), alun-alun Garut sudah menjadi pusat aktivitas, dengan foto-foto tempo doeloe menunjukkan lapangan luas yang dikelilingi bangunan kolonial.

Tokoh seperti Karel Frederik Holle, ahli perkebunan teh di Cikajang, turut berkontribusi pada kemajuan daerah.

Bahkan dirinya dibuatkan patung di alun-alun untuk mengenang jasanya.

Selama pendudukan Jepang dan pasca-proklamasi kemerdekaan Indonesia, alun-alun tetap menjadi pusat kegiatan masyarakat, mulai dari rapat rakyat hingga perayaan hari besar.

Di era modern, alun-alun telah mengalami renovasi untuk menjadi lebih hijau dan ramah wisata, dengan fasilitas seperti taman dan area bermain anak.

0 Komentar