Studi lain di jurnal Al-Afkar dan repository akademik menyoroti perspektif Gen Z yang melihat pernikahan dipengaruhi globalisasi, pandemi, dan trauma perceraian orang tua.
Dampak jangka panjang dari tren ini adalah penurunan angka kelahiran, penuaan populasi lebih cepat, serta tantangan ketahanan keluarga sebagai fondasi masyarakat.
Pemerintah melalui Kementerian Agama dan lembaga terkait mulai mengimbau generasi muda untuk mempertimbangkan pernikahan dengan bijak, sambil menangani akar masalah ekonomi dan sosial.
Baca Juga:Jejak Peninggalan Belanda di Garut yang Masih Bisa Dilihat Hingga KiniCatat Lokasinya, Ini Spot Jajanan Kaki Lima Malam Hari Paling Ramai di Garut
Fenomena ini menandakan evolusi nilai sosial di Indonesia. Pernikahan bukan lagi “keharusan”, tapi pilihan yang semakin selektif. (*)
