Oleh: Dr. Moch Ilham Anshory, M.Hum – Dosen Bahasa dan Budaya Sunda, Institut Muhammadiyah Darul Arqam Garut.
SEBENTAR lagi kita akan memperingati hari hari bahasa ibu internasional. hari bahasa ibu internasional tanggal 21 Februari. Indonesia sebagai negara yang memiliki berbagai budaya, tentu memiliki beragam bahasa Ibu.
Sebagai orang yang lahir dan dibesarkan di Tatar Priangan, Bahasa Ibu penulis adalah Bahasa Sunda.
Seni sebagai salah satu media yang merekam bahasa ibu. Berkaitan dengan seni penulis tertarik untuk mairan tulisan sahabat, M. Surya Gumilang di laman radargarut.
Baca Juga:Garut dan Para Pelukisnya: Lahir di Sini, Tumbuh di Tempat LainPMII Garut Soroti Kesehatan Mental Pelajar, Tragedi Siswa SD di NTT Jadi Alarm Dunia Pendidikan
Sebelum masuk ke dalam wilayah seni, terlebih dahulu penulis akan mencoba membaca persepsi masyarakat terkait kebudayaan.
Penulis acap kali menemukan persepsi masyarakat, budaya sama dengan seni. Jika dilihat dari jihat semiotika, seni seolah menjadi mitos. Ketika mendengar kata budaya yang terbersit karya seni. Produk budaya sangat luas, seni hanya salah satunya.
Selanjutnya, tidak sedikit orang yang memandang produk budaya itu sebagai konsumsi bukan investasi. Dua pemahaman sempit tentang kebudayaan ini berdampak pada kurangnya ketertarikan orang untuk mengivestasikan dalam bidang kebudayaan.
Fenomena yang terjadi dalam dunia seni rupa Garut sesungguhnya menjadi fenomena jagat kebudayaan. Berdasarakan geliat kebudayaan yang ada di Garut menunjukan bahwa anggaran pemerintah terkait kebudayaan tipis.
Produk budaya berisi Gagasan, proses, dan benda. Jika kita bedah Garut sangat kaya dengan produk budaya.
Penulis akan mengaitkan produk budaya dengan penilaian Indeks Pembangunan Manusia (IPM) yaitu pendidikan, ekonomi, dan kesehatan.
Pendidikan, Kabupaten Garut memiliki sekolah pra islam yaitu skriptorium Ciburuy yang berlokasi di Kecamatan Bayongbong.
Baca Juga:Pelaku Curanmor di Garut Kota Ditangkap, Motor Honda Beat Masih Dicari85 Body Pack Ditemukan Hingga Hari ke-11 Operasi SAR di Pasirlangu
Menurut penuturan ahli filologi dari Perpustakaan Nasional, isi naskah yang berada di skriptorium Ciburuy bukan hanya diteliti oleh peneliti Indonesia, peneliti eropa pun ada yang meneliti naskah-naskah Ciburuy.
Kemudian keterkaitan produk budaya dengan ekonomi, sudah sangat jelas UMKM di Garut banyak berbasih budaya. Kaitan budaya dengan kesehatan, penulis mengamati masih banyak narasumber yang masih memiliki pengetahuan lokal tentang kesehatan.
Selanjutnya penulis akan fokus ekosistem seni. Garut mewarnai seni bukan hanya dalam seni rupa saja.
