Garut dan Para Pelukisnya: Lahir di Sini, Tumbuh di Tempat Lain

istimewa
M. Surya Gumilang, M.Hum-Dosen dan Perupa Garut
0 Komentar

Akibatnya, Garut mengalami apa yang dapat disebut sebagai kehilangan talenta kultural. Generasi terbaiknya tumbuh di luar daerah, sementara regenerasi lokal berjalan tanpa pendampingan memadai. Anak muda berbakat kehilangan figur rujukan, dan seni rupa lokal bergerak tanpa arah yang jelas. Kota wisata ini pun kehilangan kesempatan membangun identitas visual yang kuat, sebuah ironi bagi daerah yang kaya lanskap, cerita, dan sejarah.

Lebih jauh, seni rupa Garut terjebak dalam nostalgia. Nama-nama besar masa lalu sering disebut sebagai kebanggaan, tetapi jarang dijadikan cermin untuk bertanya: mengapa setelah mereka, Garut tidak tumbuh menjadi pusat perkembangan seni rupa yang berkelanjutan? Kebanggaan tanpa refleksi berisiko menjadikan sejarah sekadar monumen, bukan pijakan.

Padahal, langkah perbaikannya tidak mustahil. Pertama, Garut perlu berhenti memandang seni rupa sebagai simbol seremonial. Yang dibutuhkan bukan sekadar gedung seni, melainkan ruang hidup yang dikelola secara profesional, galeri aktif, program residensi, pameran berkala, serta kehadiran kurator dan pengelola yang memahami ekosistem seni.

Baca Juga:PMII Garut Soroti Kesehatan Mental Pelajar, Tragedi Siswa SD di NTT Jadi Alarm Dunia PendidikanPelaku Curanmor di Garut Kota Ditangkap, Motor Honda Beat Masih Dicari

Kedua, seniman perlu diposisikan sebagai mitra dalam kebijakan kebudayaan, bukan hanya sebagai pengisi acara. Mereka adalah produsen gagasan, bukan sekadar pelengkap agenda. Ketiga, ekonomi seni harus dibangun secara nyata: melalui program pembelian karya, kolaborasi dengan sektor pariwisata dan perhotelan, serta dukungan terhadap pasar seni lokal. Ini bukan pemborosan, melainkan investasi jangka panjang identitas kota.

Keempat, diskursus seni harus dihidupkan. Tulisan, kritik, dan percakapan publik adalah penanda ekosistem yang sehat. Kota besar tidak tumbuh karena banyak seniman semata, melainkan karena seni dibicarakan, diperdebatkan, dan dipikirkan bersama.

Pada akhirnya, perlu ada perubahan cara pandang. Perupa yang memilih bertahan dan berkarya di Garut bukanlah mereka yang “tidak berhasil keluar”, melainkan mereka yang bersedia berproses di tanah yang belum sepenuhnya ramah. Pertanyaannya kini bukan lagi mengapa seniman pergi, melainkan kapan Garut siap menyediakan ruang agar mereka mau pulang.

Sejarah telah memberi Garut modal yang besar: ia pernah melahirkan maestro. Kini tinggal satu pertanyaan yang menentukan arah ke depan, apakah Garut ingin terus dikenang sebagai kota kelahiran, atau berani menjadi kota tempat seni rupa benar-benar tumbuh dan hidup. (*)

0 Komentar