Oleh: M. Surya Gumilang, M.Hum-Dosen dan Perupa Garut
GARUT kerap dikenang sebagai kota yang indah. Alamnya memikat, udaranya bersahabat, dan aksesnya relatif mudah dijangkau. Namun di balik keindahan itu, ada ironi yang jarang dibicarakan secara serius: Garut adalah kota yang melahirkan maestro seni rupa, tetapi belum mampu menjadi tempat mereka tumbuh dan berakar.
Sejarah seni rupa Indonesia mencatat nama-nama besar seperti Ahmad Sadali dan Popo Iskandar, dua tokoh penting yang pengaruhnya melampaui batas lokal. Keduanya lahir dari rahim Garut, namun perjalanan artistik dan intelektual mereka berkembang di kota lain. Garut hadir sebagai titik awal, bukan ruang pengolahan. Sebuah fakta yang patut direnungkan, bukan sekadar dibanggakan.
Pola itu rupanya tidak berhenti di masa lalu. Hingga kini, banyak perupa muda asal Garut menempuh pendidikan tinggi seni rupa, menjadi akademisi, praktisi, bahkan aktor penting di kota besar. Mereka membawa identitas “anak Garut” dalam riwayat hidupnya, tetapi tidak dalam praktik keseharian berkesenian di daerah asal. Bukan karena enggan pulang, melainkan karena ruang untuk pulang belum benar-benar tersedia.
Baca Juga:PMII Garut Soroti Kesehatan Mental Pelajar, Tragedi Siswa SD di NTT Jadi Alarm Dunia PendidikanPelaku Curanmor di Garut Kota Ditangkap, Motor Honda Beat Masih Dicari
Masalah utama seni rupa Garut sesungguhnya bukan pada ketiadaan bakat, melainkan pada kerapuhan ekosistem. Di kota ini, seni rupa lebih sering hadir sebagai peristiwa daripada sebagai proses. Pameran digelar saat ada perayaan, lalu menghilang setelah agenda selesai. Ruang seni dibuka ketika ada undangan, ditutup ketika anggaran berakhir. Seni diperlakukan seperti tamu kehormatan disambut hangat, tetapi tidak disediakan tempat tinggal.
Dalam banyak kesempatan, seni rupa juga kerap ditempatkan sebagai pelengkap pariwisata. Ia dihadirkan untuk mempercantik acara, bukan untuk memperkaya wacana. Seniman diminta tampil, tetapi jarang diajak berpikir bersama. Padahal, seni rupa bukan sekadar soal estetika visual, melainkan cara membaca realitas, sejarah, dan identitas sebuah kota.
Persoalan ekonomi pun tak bisa diabaikan. Di Garut, menjadi perupa sering kali berarti berhadapan dengan romantisme pengabdian yang panjang, tetapi tanpa kepastian keberlanjutan. Pasar seni belum terbentuk secara nyata, kolektor lokal terbatas, dan dukungan institusional terhadap pembelian karya hampir tidak terdengar. Seni diminta hidup, tetapi tidak diberi ruang untuk bertahan. Dalam kondisi seperti ini, pilihan untuk hijrah bukan soal ambisi, melainkan soal keberlangsungan.
