BOP PTMSI Garut Cuma 500 Ribu Sebulan, Padahal Banyak Atlet Berpotensi

(Feri/Radar Garut)
pertandingan tenis meja di GOR PTMSI di Kelurahan Margawati, Kecamatan Garut Kota. (Feri/Radar Garut)
0 Komentar

GARUT – Kabupaten Garut diklaim mempunyai potensi yang sangat baik untuk cabang olahraga tenis meja. Banyak atlet berprestasi dari Kabupaten Garut yang telah mencatatkan prestasi, bahkan banyak atlet asal Garut yang bermain di kabupaten lain dan menorehkan prestasi.

Selama ini, organisasi resmi yang berada di bawah naungan Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Kabupaten Garut untuk tenis meja yaitu Persatuan Tenis Meja Seluruh Indonesia (PTMSI). Organisasi ini secara konsisten melakukan pembinaan terhadap para atlet tenis meja.

Namun demikian, biaya pembinaan dari Pemerintah Kabupaten Garut yang dinilai minim, menjadi salah satu kendala bagi PTMSI untuk mencetak para atlet tenis meja.

Baca Juga:Cek Harga Emas Antam di Pegadaian 9 Februari 2026, Terbaru Hari IniDTSEN Dinilai Belum Cerminkan Kondisi Riil Kesejahteraan Warga Garut

Ketua PTMSI Kabupaten Garut, Hasan Basri menyebut, sekarang ini biaya operasional (BOP) yang diberikan Pemerintah Kabupaten Garut melalui KONI ke PTMSI hanya Rp500 ribu saja dalam satu bulan. Itupun diberikan per tiga bulan sekali.

Hasan bersyukur Pemerintah Kabupaten Garut bisa mengalokasikan anggaran bagi PTMSI, namun menurutnya, nilai Rp500 ribu untuk organisasi yang cukup besar, dirasakan sangat minim.

“Kalau di Garut, mungkin dari sisi bantuan dari Pemda atau dari KONI-nya belum maksimal mungkin. Itulah yang saya rasakan memang seperti itu. Bahkan untuk operasional PTMSI itu dari KONI hanya dikasih lima ratus ribu kemampuannya, lima ratus ribu per bulan. Dan dikasihkan tiga bulan sekali buat operasional PTMSI secara keseluruhan,” ujar Hasan Basri belum lama ini.

Padahal, kata dia, selama ini PTMSI membawahi struktur organisasi di bawahnya kurang lebih sebanyak 90 PTM. Dan jelas saja, BOP senilai Rp500 ribu untuk mengurus 90 PTM dirasakan sangat berat.

“Iya. Padahal PTMSI itu membawahi kurang lebih sembilan puluh PTM di bawah. Jadi, PTM-PTM di bawah itu kita tidak terurus dengan baik karena mungkin dari sisi finansial tidak ada,” katanya.

Bahkan di beberapa kejuaraan, PTMSI kerap melakukan iuran dari PTM untuk bisa menutup besarnya biaya operasional. Hal itu terpaksa dilakukan demi kelancaran kegiatan tenis meja.

“Kita juga kemarin untuk kejuaraan kelompok usia ya, kita iuran gitu. Jadi PTM-PTM itu iuran dalam sebulan itu lima puluh ribu agar pembinaan untuk atlet ketika ada kejuaraan kelompok usia tidak bayar gitu,” katanya.

0 Komentar