GARUT – Kalangan mahasiswa diminta untuk tetap menjaga sikap kritis dan independensinya dalam menyikapi berbagai persoalan publik. Mahasiswa juga diingatkan agar tidak mudah terpengaruh oleh berbagai bentuk pendekatan yang berpotensi melemahkan daya kritis, termasuk pendekatan melalui kegiatan hiburan atau fasilitas tertentu.
Hal tersebut disampaikan Sekretaris Umum Pengurus Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PC PMII) Garut, Rizki Zidan, dalam pernyataannya terkait peran mahasiswa sebagai agen perubahan.
Menurut Rizki, mahasiswa memiliki posisi strategis dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, khususnya sebagai kelompok intelektual yang seharusnya menjadi pengawas jalannya pemerintahan dan kebijakan publik. Namun, peran tersebut akan kehilangan makna apabila mahasiswa tidak lagi berani menyampaikan kritik secara terbuka.
Baca Juga:LPSK Ingatkan Bahaya Child Grooming, Kejahatan yang Sering Tak Disadari KorbanKasat Lantas Polres Tasik Berganti, Sukaraja Punya Kapolsek Baru
“Mahasiswa harus berani mengkritik. Jangan sampai sikap kritis itu hilang hanya karena diikat dengan berbagai upaya, misalnya diajak main bola, diajak kegiatan hiburan, atau diberi fasilitas tertentu,” ujar Rizki Zidan.
Ia menilai, praktik-praktik pendekatan semacam itu kerap dilakukan untuk meredam suara kritis mahasiswa. Jika dibiarkan, hal tersebut dapat membuat gerakan mahasiswa kehilangan substansi perjuangannya.
“Kalau mahasiswa sudah merasa nyaman dan akhirnya enggan bersuara, maka fungsi kontrol sosialnya akan hilang. Padahal sejak dulu mahasiswa dikenal sebagai penyambung lidah rakyat dan penggerak perubahan sosial,” katanya.
Rizki menegaskan, kritik yang disampaikan mahasiswa bukan bertujuan untuk menjatuhkan pihak tertentu, melainkan sebagai bentuk tanggung jawab moral terhadap kondisi masyarakat.
Ia menyebut, banyak persoalan yang membutuhkan perhatian mahasiswa, mulai dari isu pendidikan, kesehatan, ekonomi, hingga kebijakan pembangunan daerah.
“Kritik itu bukan bentuk permusuhan. Kritik adalah wujud kepedulian. Kalau ada kebijakan yang tidak tepat sasaran atau merugikan masyarakat, mahasiswa wajib mengingatkan,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan bahwa sejarah bangsa Indonesia tidak bisa dilepaskan dari peran mahasiswa dalam mengawal perubahan. Oleh karena itu, menurutnya, mahasiswa tidak boleh kehilangan idealisme dan keberanian hanya karena faktor kenyamanan atau kedekatan dengan kekuasaan.
Baca Juga:Polsek Limbangan Gelar Operasi Knalpot Brong, 4 Unit Kendaran DiamankanJelang Ramadhan, Legislator PKS Mengajak Umat Persiapkan Fisik, Rohani hingga Ilmu
“Mahasiswa harus menjaga jarak yang sehat dengan kekuasaan. Bukan berarti memusuhi, tapi jangan sampai terlalu dekat hingga tidak bisa lagi bersikap objektif,” ucapnya.
