Lima program itu antara lain: mendorong wisata nginap, wisata produk knowledge, wisata kuliner, wisata budaya, dan wisata olahraga.
”Kan kalau bisa wisata nginep, siapa sih yang nggak tahu Garut. wisata nginep kan udah representatif, udah seolah-olah bagus lah, udah profesional kan, hotel-hotel udah fasilitasnya udah hebat, itu wisata nginep,” ucapnya.
Lebih lanjut, ia menekankan pentingnya mengarahkan wisatawan ke pusat-pusat industri kreatif melalui wisata edukasi agar produk lokal semakin dikenal luas.
Baca Juga:Lapas Garut Gelar Seleksi Tim Zona Integritas Menuju WBK/WBBMMoring Garut, Camilan Pedas Legendaris yang Naik Kelas tapi Tetap Merakyat
”Kedua, wisata produk knowledge. Bagaimana kita menggiring produk-produk wisata yang sifatnya ada kunjungan-kunjungan wisata atau edukasi wisata ke arah sentra-sentra kerajinan kulit, dodol, apalah. Ini produk uniknya kita harus coba dikembangkan, dipromosikan,” katanya.
Selain menyinggung pilar ketiga yakni wisata kuliner, ia juga memberikan perhatian khusus pada kreativitas Dinas Pariwisata dalam mengemas seni budaya, termasuk melalui kolaborasi lintas daerah.
”Ketiganya, wisata kuliner. Wisata makan. Keempatnya, wisata budaya, bagaimana Dinas Pariwisata mengemas, ya salah satu tadi kan ada tontonan yang menarik kan yang baru di penampilan, salah satunya kan itu ada kolaborasi antara musik Sunda dengan musik Bali.”
Sebagai penutup, ia mengungkapkan rencana besarnya untuk mengisi celah yang selama ini belum terjamah di Garut, yaitu sektor sport tourism dengan memanfaatkan kawasan Ngamplang.
”Dan yang belum ada sekarang itu wisata olahraga. Ya salah satunya saya lagi merintis bagaimana Ngamplang itu jadi dimiliki oleh semua, bagaimana kita membuat satu wisata olahraga di Ngamplang. Ada jogging track, ada outbond, ada, ada golf, ada tenis, ada ini, ada itu,” pungkasnya.(*)
