GARUT – Pengusaha di sektor Pariwisata, Perhotelan dan Rumah makan sekarang ini dihadapkan terhadap badai baru yang dinilai cukup menghambat terhadap pendapatan mereka.
Badai itu adalah efisiensi anggaran pemerintah, yang menyebabkan berkurangnya kegiatan-kegiatan pemerintahan.
Efisiensi anggaran pemerintah ini dirasakan cukup signifikan terhadap tingkat okupansi hotel, restoran maupun pengusaha di sektor pariwisata lainnya.
Baca Juga:Lapas Garut Gelar Seleksi Tim Zona Integritas Menuju WBK/WBBMMoring Garut, Camilan Pedas Legendaris yang Naik Kelas tapi Tetap Merakyat
Karena kegiatan pemerintahan yang sebelumnya banyak menggunakan hotel, restoran dan tempat wisata menjadi berkurang seiring efisiensi anggaran yang diterapkan.
Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) BPC Kabupaten Garut, Ato Hermanto tidak menyalahkan kebijakan pemerintah terkait efisiensi anggaran.
Pasalnya dengan kondisi keuangan yang serba sulit sekarang ini, menurutnya efisiensi merupakan satu langkah yang memang harus dilakukan. Tak hanya oleh pemerintah, namun masyarakat pun menurutnya harus melakukan hal yang sama.
Jadi menurutnya, efisiensi anggaran jangan dijadikan kendala, namun harus menjadi tantangan bagi seluruh pihak untuk bagaimana mencari jalan keluar.
Menurutnya, kunci utama untuk menghadapi masalah ini adalah dengan kolaborasi seluruh stakeholter di sektor pariwisata, perhotelan maupun restoran untuk memaksimalkan pendapatannya.
“Ya, kalau namanya efisiensi ya semua juga harus efisiensi kan situasi sekarang kan, baik masyarakat, baik birokrat, semua juga lagi susah lah sekarang. Lagi daya beli lagi rusak, keuangan lagi sulit. Ya memang harus efisiensi semua. Makanya kenapa kita bicara sinergitas, bicara kolaborasi, justru ini yang akan kita saling gotong royong,” ujarnya Senin malam 26 Januari 2026.
Dengan kolaborasi yang baik antara semua stakeholder, menurut Ato, efisiensi anggaran pemerintah tidak akan menjadi masalah yang besar.
Baca Juga:5 Ide Jualan Kue Basah Seribuan yang Paling Laris di 2026Bansos 2026 Terbaru, PKH Tahap I Resmi Masuk SIKS-NG dan BPNT Siap Cair
Dan langkah konkret untuk menghadapi masalah ini adalah dengan menciptakan program-program baru yang dinilai mampu meningkatkan tingkat okupasi tersebut.
“Nah itu dengan efisiensi ini dan dengan program-program ini kelihatan efisiensi ini udah tidak masalah. Kita khusus untuk program-program misal untuk event atau apapun lah. Karena apapun juga kan namanya pariwisata kan tetap harus dieksplore dan nanti harus bisa menggali bagaimana potensi-potensi,” katanya.
PHRI sendiri menurut Ato, sekarang ini memiliki lima program unggulan yang dinilai mampu meningkatkan okupansi perhotelan, restoran dan pariwisata.
