GARUT – Pembangunan gapura berbentuk candi di Kampung Pesantren Tengah, dekat Masjid Agung Desa Cibiuk Kidul, Kecamatan Cibiuk, Kabupaten Garut, tengah menjadi perhatian warga.
Gapura yang berdiri di kawasan lingkungan pesantren itu ramai diperbincangkan karena bentuk arsitekturnya yang menyerupai candi, namun pihak penggagas menegaskan bahwa pembangunan tersebut murni untuk keindahan dan tidak memiliki kaitan dengan unsur budaya atau simbol keagamaan tertentu.
Ajengan Iip, tokoh yang menggagas sekaligus membangun gapura tersebut, menegaskan bahwa konsep gapura candi hanya sebatas karya arsitektur dan estetika lingkungan.
Baca Juga:Target PAD Garut 2026 Sekitar Rp770 Miliar, Kontribusi ke APBD Naik Jadi 15 PersenAnggaran Terbatas, Disparbud Garut Benahi Destinasi Wisata Lama di Tahun 2026
Ia menyebut bentuk gapura apa pun seharusnya tidak perlu diperdebatkan, selama tidak menyimpang dari nilai kehidupan sehari-hari masyarakat.
“Pembuatan gapura candi untuk keindahan. Gapura berbentuk apapun tak usah dikait-kaitkan dengan budaya Islam. Yang penting prilaku sehari-hari,” ujar Ajengan Iip.
Ia menjelaskan, meskipun lokasi gapura berada tidak jauh dari Masjid Agung Desa Cibiuk Kidul, posisinya berada di luar area halaman masjid.
Dengan demikian, menurutnya tidak ada keterkaitan langsung antara bangunan gapura tersebut dengan aktivitas keagamaan di masjid.
Pembangunan gapura sempat terhenti sementara pada Minggu, 25 Januari 2026 karena material bangunan habis.
Namun Ajengan Iip memastikan bahwa pembangunan akan tetap dilanjutkan hingga selesai, meskipun muncul berbagai kritik dari sebagian pihak.
Menurutnya, konsep arsitektur gapura tersebut terinspirasi dari model gapura candi Majapahit yang dikenal sebagai bagian dari kekayaan desain arsitektur Nusantara.
Baca Juga:Lansia Tunanetra di Bayongbong Tak Tersentuh Bantuan, Yudha Puja Turnawan Minta Intervensi Pemkab dan KemensosRumah Warga di Garut Rusak Diterjang Angin, Kapolsek Banjarwangi Langsung Tinjau Lokasi
Ia menegaskan bahwa konsep tersebut tidak membawa makna simbolik tertentu, melainkan murni sebagai desain visual.
Gapura candi ini direncanakan menjadi identitas atau ciri khas Kampung Pesantren Tengah. Sebelumnya, di lingkungan tersebut juga telah dibangun enam gapura lain di gang-gang jalan lingkungan, meskipun tidak berbentuk candi.
Dengan adanya pembangunan ini, diharapkan Kampung Pesantren Tengah memiliki ikon visual tersendiri yang memperkuat identitas wilayah, sekaligus memperindah tata lingkungan desa tanpa menggeser nilai-nilai sosial dan keagamaan masyarakat setempat.(Pepen Apendi)
