Rasulullah juga menyinggung perkara ini melalui kisah dua putra Nabi Adam, Habil dan Qabil.
Dari hadis ini kita belajar bahwa dosa tidak hanya tercatat karena perbuatan itu dilakukan, tetapi juga karena perbuatan tersebut dipelopori dan dicontohkan.
Siapa yang membuka pintu keburukan, maka ia akan ikut menanggung akibatnya selama keburukan itu terus dilakukan orang lain.
Baca Juga:Mengenal 3 Pesantren Besar di Garut yang Berperan Penting dalam Pendidikan IslamDiduga Terlalu Dekat Rel, Warga Cibatu Tertemper KA Commuter Line
Hal ini sangat relevan dengan kehidupan kita hari ini. Media sosial telah menjadi ruang terbuka bagi siapa saja untuk memberi pengaruh. Pertanyaannya, pengaruh seperti apa yang kita sebarkan Apakah mengajak pada kebaikan, atau justru menormalisasi keburukan
Ketika seseorang memulai tren buruk, menyebarkan konten yang merusak moral, menumbuhkan kebencian, atau mengajak kepada kemaksiatan, maka selama konten itu ditiru dan dijadikan rujukan, dosa akan terus mengalir kepadanya, meskipun jasadnya telah lama terkubur.
Allah SWT mengingatkan kita dalam Surah Luqman ayat 6:
Dan di antara manusia ada yang mempergunakan perkataan yang tidak berguna untuk menyesatkan orang dari jalan Allah tanpa ilmu, dan menjadikannya bahan ejekan.
Coba kita jujur pada diri sendiri sudah berapa banyak konten yang kita unggah bukan untuk menebar manfaat, tapi malah membuat orang makin jauh dari Allah?
Tanpa sadar, mungkin kita sering membuang waktu demi postingan yang sekadar memancing syahwat, menjatuhkan harga diri orang lain, atau malah menganggap dosa sebagai hal yang biasa.(*)
