RADARGARUT.ID – Kematian bukan selalu menjadi akhir dari segala urusan manusia. Dalam ajaran Islam, terdapat amal-amal tertentu yang justru terus berjalan meski seseorang telah meninggal dunia.
Pahala maupun dosa dapat tetap mengalir, bergantung pada jejak perbuatan yang ditinggalkan semasa hidup.
Hal inilah yang menjadi pokok bahasan dalam khutbah Jumat bertema “Amal yang Terus Mengalir Setelah Kematian”.
Baca Juga:Mengenal 3 Pesantren Besar di Garut yang Berperan Penting dalam Pendidikan IslamDiduga Terlalu Dekat Rel, Warga Cibatu Tertemper KA Commuter Line
Khutbah ini mengingatkan jamaah agar lebih berhati-hati dalam setiap perbuatan, termasuk di tengah perkembangan zaman dan kemudahan berbagi informasi melalui media sosial.
Setiap ucapan, tulisan, dan unggahan bukan hanya bernilai sementara, tetapi bisa menjadi bekal atau beban yang terus menyertai hingga akhirat kelak.Jamaah Jumat rahimakumullah,
Seringkali kita berpikir bahwa segalanya selesai saat napas terakhir keluar. Mata tertutup rapat, jasad ternaring kaku diiringi tetesan air mata dan doa keluarga. Kita diselimuti kain kafan, disalatkan, lalu dikuburkan.
Tamat, seolah-olah begitu. Tapi, coba kita renungkan sejenak, benarkah demikian
Di era digital seperti sekarang, kematian fisik belum tentu berarti akhir dari segalanya. Ada kehidupan lain setelah kita tiada. Kehidupan itu berbentuk jejak digital kita kata-kata, video, komentar, gambar, dan status yang pernah kita bagikan.
Jejak ini menjadi saksi bisu yang terus berjalan, bisa jadi dia mengalirkan pahala jariyah tanpa henti, atau justru menjadi sumber dosa yang terus tertuang ke catatan amal buruk kita. Seperti sabda Rasulullah SAW:
“Siapa pun yang memulai dan memberi teladan kebaikan dalam Islam, maka ia akan memperoleh pahala dari perbuatan tersebut, sekaligus pahala orang-orang yang mengikutinya, tanpa sedikit pun mengurangi pahala mereka.
Sebaliknya, siapa yang memulai dan mencontohkan keburukan, maka ia akan menanggung dosanya sendiri beserta dosa orang-orang yang menirunya, tanpa mengurangi dosa mereka sedikit pun.”
Baca Juga:Tiga Seni Tradisi Khas Garut yang Tetap Lestari hingga Kini, Salah Satunya Berasal dari MalangbongKeuangan Rumah Tangga Lebih Stabil, Ini 10 Langkah yang Bisa Diterapkan
Hadits ini, seperti pukulan keras buat kita. Setiap kali tangan ini gatal menekan tombol posting atau bagikan, kita sebenarnya sedang menentukan pilihan penting.
Apakah unggahan kita ini bakal jadi cahaya yang terus menerus menerangi, atau justru jadi api membara yang terus membakar dosa setelah tubuh kita dingin membeku di dalam kubur.
