Satu Jenazah Korban Jatuhnya Pesawat ATR 42-500 di Sulsel Dimakamkan di Garut

istimewa
Satu Jenazah Korban Jatuhnya Pesawat ATR 42-500 di Sulsel Dimakamkan di Garut
0 Komentar

GARUT – Suasana duka menyelimuti Kampung di Desa Sukawening, Kabupaten Garut, Kamis (22/1/2026) sore. Jenazah Deden Maulana, salah satu korban kecelakaan pesawat ATR 42-500 yang jatuh di kawasan Gunung Bulusarang, Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan, akhirnya tiba di kampung halamannya.

Kedatangan jenazah disambut isak tangis keluarga dan warga yang sejak pagi menunggu di rumah duka. Tangis pecah saat peti jenazah diturunkan dari kendaraan dan dibawa masuk ke rumah keluarga.

Setelah disalatkan di masjid setempat, jasad pria berusia 43 tahun itu langsung dimakamkan di Tempat Pemakaman Umum (TPU) yang berjarak tak jauh dari rumah orang tuanya.

Baca Juga:BMKG Peringatkan Potensi Hujan Lebat di Sejumlah Wilayah, Berlaku Hingga Akhir JanuariPSI Nilai Kunjungan Prabowo ke Inggris Perkuat Arah Pembangunan Maritim dan Pendidikan

Kerabat almarhum, Berlian Purnama mengungkapkan rasa terpukulnya keluarga saat pertama kali mendengar kabar pesawat yang ditumpangi Deden hilang kontak pada Sabtu, 17 Januari 2026.

“Kami benar-benar kaget dan tidak tenang. Begitu dapat kabar, saya langsung ke rumah keluarga, lalu ke Bandung, dan akhirnya berangkat ke Jakarta untuk mencari informasi,” ujarnya di lokasi pemakaman kepada wartawan.

Menurut Berlian, informasi awal tentang pesawat yang hilang diterima keluarga menjelang petang. Tanpa menunggu lama, mereka langsung menuju Jakarta guna mendapatkan kabar yang lebih pasti dari pihak berwenang.

Setelah proses identifikasi dan penyelidikan selesai dilakukan, pihak keluarga akhirnya diizinkan membawa pulang jenazah almarhum untuk dimakamkan di kampung halaman.

Kenangan Terakhir dan Firasat Keluarga

Berlian juga mengenang kebersamaan terakhir keluarga besar dengan Deden saat libur Natal dan Tahun Baru lalu. Kala itu, almarhum sempat pulang ke Garut dan mengajak salah satu anaknya berlibur ke Bandung.

“Sekitar tiga hari di Bandung, setelah itu balik lagi ke Garut. Aa sempat tinggal di sini beberapa hari sebelum kembali ke Jakarta,” tuturnya.

Salah satu peristiwa yang hingga kini terasa janggal bagi keluarga adalah saat Deden datang ke rumah orang tuanya pada dini hari sebelum kembali bekerja.

Baca Juga:SBY Ingatkan Ancaman Perang Dunia Ketiga, Sebut Dunia Kian Dekati Titik BerbahayaLiga Champions Makin Sengit, Arsenal Nyaman di Puncak, Raksasa Eropa Berebut Tiket Aman

“Sekitar jam dua malam, Aa sempat memeluk ibu yang sedang tidur. Waktu itu kami tidak curiga apa-apa,” katanya.

Momen tersebut menjadi pertemuan terakhir sebagian besar anggota keluarga besar dengan almarhum. Berlian sendiri mengaku terakhir berkomunikasi dengan Deden di awal Januari lalu.

0 Komentar