Kisah Inspiratif Kebon Tin Garut, Dari Hobi Tabulampot hingga Menjadi Pelopor Nasional

buah Tin
buah Tin
0 Komentar

GARUT – Siapa sangka, buah yang kerap dijuluki buah surga kini tumbuh subur di Kampung Tanjung Kamuning, Kabupaten Garut.

Melalui Kebon Tin Garut, Hary Fadlilah membuktikan bahwa ketekunan dan keberanian mencoba hal baru mampu membuka jalan sukses.

Berawal dari satu bibit pada 2005, kini ia dikenal sebagai pelopor pembibitan buah tin yang bibitnya tersebar ke berbagai daerah di Indonesia.

Baca Juga:PMI Garut Ambil Peran dalam Penanganan Bencana Nasional, Sekda Apresiasi RelawanKDM Minta APBD Dibuka ke Publik, Sekda Garut: Sudah Disampaikan, Tinggal Formulanya

Ketertarikan Hary pada buah tin bermula dari hobi mengembangkan Tanaman Buah Dalam Pot (Tabulampot).

Dari berbagai jenis tanaman yang dicoba, buah tin justru mencuri perhatiannya. Ia pun memberanikan diri membeli satu bibit Brown Turki dan Green Yordan sebagai langkah awal.

“Pertama itu tertarik pembibitan buah tin dari Tanaman Buah Dalam Pot (Tabulampot) dari beberapa jenis buah-buahan tahun 2005 mulai ngajak nyoba bibit buah tin satu jenis Brown Turki. Harga bibit Brown Turki waktu itu Rp125.000 dengan ukuran 30cm sama Green Yordan Rp.100.000, kurang lebih 6 bulan mulai coba untuk pembibitan dan dijual sampai hasilnya untuk membeli jenis yang lain,” ujarnya.

Selama enam bulan, ia merawat bibit tersebut hingga layak jual. Hasil penjualannya kembali diputar untuk membeli jenis lain. Dari proses sederhana itu, perlahan Kebon Tin Garut tumbuh dan berkembang.

Menemukan Varian yang Cocok di Iklim Tropis

Buah tin memiliki ratusan varietas, namun tidak semuanya mampu beradaptasi dengan iklim Indonesia. Lewat serangkaian percobaan, Hary berhasil menyeleksi puluhan jenis yang dapat tumbuh optimal di wilayah tropis, termasuk Garut.

“Bibit buah tin sebetulnya mencapai ratusan varian, ada yang identik atau tidak dapat berbuah di Indonesia, yang berhasil dibibitkan sekitar ada 60 varian dan buah tin memiliki jenis buah yang berbeda juga, dari segi warna yaitu kuning, hitam, hijau, merah dan belang,” lanjutnya.

Pada awalnya, seluruh proses dikerjakan sendiri di kebun milik kakaknya. Mulai dari pembibitan, perawatan, hingga pemasaran ia tangani tanpa bantuan. Baru dalam dua tahun terakhir, Hary mulai melibatkan tenaga kerja untuk membantu operasional kebun.

0 Komentar