RADARGARUT.ID – Olahraga lari kini semakin diminati dan menjadi pilihan aktivitas fisik favorit banyak orang dari berbagai usia. Popularitasnya terus meningkat seiring tumbuhnya kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga kesehatan, ditambah lagi lari tergolong olahraga yang praktis karena bisa dilakukan kapan saja tanpa perlengkapan rumit.
Meski terlihat sederhana, memulai olahraga lari terutama bagi pemula tetap memerlukan pertimbangan yang matang. Kondisi fisik serta riwayat aktivitas olahraga sebelumnya menjadi faktor penting agar lari bisa dilakukan dengan aman dan berkelanjutan.
Terkait hal ini, dr. Tirta membagikan sejumlah panduan bagi mereka yang baru ingin terjun ke dunia lari.
Baca Juga:Lapas Garut Perkuat Sistem Siaga Bencana, Petugas Dibekali Pemetaan Risiko hingga Jalur EvakuasiRekomendasi HP Antimainstream Rp 3–5 Jutaan, Salah Pilih Bisa Bikin Nyesel
1. Pemula dengan Latar Belakang Olahraga
Seseorang yang sebelumnya aktif berolahraga secara rutin dinilai lebih siap untuk langsung mulai berlari. Aktivitas seperti tenis, crossfit, atau latihan gym yang dilakukan secara konsisten sudah membentuk kebiasaan kerja otot dan daya tahan jantung.
“Runner pemula itu tergantung, dia ada basic olahraga dulu apa enggak. Kalau dia ternyata basic-nya ada tenis, crossfit, olahraga yang konsisten. Jadi kalau dia olahraga konsisten, misalkan nge-gym, tapi konsisten, tapi enggak lari. Itu dia sebenarnya langsung lari enggak apa-apa, karena dia sudah terbangun kebiasaan konsistensi otot dan jantungnya terbiasa,” dikutip dari podcast chanel YouTubenya.
2. Pemula Tanpa Riwayat Olahraga
Berbeda halnya dengan mereka yang belum pernah berolahraga sama sekali. Menurut dr. Tirta, langkah awal yang perlu dilakukan adalah membangun kebiasaan bergerak terlebih dahulu.
Kondisi berat badan juga perlu menjadi perhatian utama, khususnya bagi mereka yang mengalami obesitas.
Ia menegaskan bahwa orang dengan obesitas sebaiknya tidak langsung memaksakan diri untuk berlari karena berisiko menimbulkan cedera, terutama pada lutut.
“Hal ini dapat meningkatkan risiko cedera lutut. Orang dengan obesitas perlu fokus pada penurunan berat badan terlebih dahulu. Setelah berhasil menurunkan berat badan hingga mencapai kategori overweight, mereka baru boleh mulai berlari dengan pace yang pelan,” sebutnya.
Sementara bagi pemula yang tidak mengalami obesitas, lari bisa langsung dicoba dengan catatan dilakukan secara bertahap dan konsisten.
