GARUT – Serapan pupuk bersubsidi jenis urea di Kabupaten Garut pada tahun 2025 terbilang rendah. Berdasarkan data Dinas Pertanian Kabupaten Garut, serapan pupuk urea hanya mencapai 60 persen. Sementara itu, serapan pupuk subsidi jenis NPK justru cukup tinggi, yakni mencapai 90 persen.
Hal tersebut disampaikan Kepala Bidang Sarana Tanaman Pangan Hortikultura dan Perkebunan Dinas Pertanian Kabupaten Garut, Ardhy Firdian.
“Kalau yang urea itu enam puluh persen, sedangkan yang NPK sembilan puluh persen,” ujar Ardhy, kemarin.
Baca Juga:Ratusan Bibit Kopi Dibagikan Kapolres Garut, Upaya Mitigasi Longsor dan Pemberdayaan EkonomiEmpat Rumah Terdampak Kebakaran di Sukaresmi, Anggota DPRD dan DKP Garut Salurkan Bantuan
Ardhy menjelaskan bahwa dari hasil evaluasi pihaknya, terjadi pergeseran pola pemanfaatan pupuk oleh petani. Jika sebelumnya petani lebih banyak menggunakan pupuk urea, kini mereka cenderung beralih ke pupuk NPK.
“Karena unsur hara NPK lebih kompleks dan lengkap. Sementara urea itu masih memerlukan tambahan jenis pupuk lain,” jelasnya.
Terkait kemungkinan pengurangan lahan pertanian sebagai penyebab rendahnya serapan pupuk urea, Ardhy menegaskan hal tersebut tidak terlalu berpengaruh.
“Saya kira pengurangan lahan memang ada, tapi tidak terlalu signifikan,” tegasnya.
Mengenai pupuk urea yang tidak terserap, Ardhy mengatakan pupuk tersebut akan ditarik kembali oleh perusahaan penyalur.
“Karena tidak terserap, pupuk itu diambil kembali oleh pihak perusahaan. Itu juga tidak bisa dibayarkan,” katanya.
Lebih lanjut, Dinas Pertanian Kabupaten Garut akan melakukan kajian lanjutan terhadap data serapan pupuk tersebut, khususnya terkait pembaruan data Rencana Definitif Kebutuhan Kelompok (RDKK) petani penerima pupuk subsidi.
Baca Juga:AKBP Yugi Sebut Polres Garut Membutuhkan ATV untuk Patroli PantaiApel Bersama Kemenko KUMHAM IMIPAS, Lapas Garut Perkuat Komitmen Kinerja dan Integritas Pegawai
“Nanti akan kita dalami lagi, orang per orang. Siapa pemilik lahannya, siapa pemakainya, dan bagaimana tingkat serapan atau realisasi pengambilan pupuknya, apakah masih rendah atau tidak,” pungkasnya. (Feri Citra Burama)
