GARUT – Hari pertama masuk sekolah diwarnai aksi turun ke jalan oleh ratusan siswa SMA Yayasan Baitul Hikmah Al Mamuni (YBHM) Garut, Senin, 12 Januari 2026).
Aksi tersebut dilakukan lantaran akses menuju sekolah digembok oleh seorang pengusaha yang mengklaim telah memiliki seluruh lahan tempat berdirinya sekolah.
Akibat penggembokan tersebut, ratusan siswa gagal mengikuti Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) di hari pertama masuk sekolah.
Baca Juga:Tim SAR Gabungan Temukan Korban Tenggelam di Pantai Pamayangsari dalam Kondisi Meninggal DuniaSampah Berserakan Jalan Palalangon, Warga Keluhkan Gangguan Kenyamanan
Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan SMA YBHM Garut, Iwan Ridwan mengatakan penggembokan dilakukan oleh seorang pengusaha yang merasa telah memiliki seluruh tanah sekolah.
“Karena ada penggembokan oleh pengusaha yang merasa sudah memiliki tanah seluruh sekolah ini,” ujar Iwan.
Menurutnya, seluruh akses masuk ke lingkungan sekolah telah ditutup sejak masa libur panjang hingga hari pertama masuk sekolah.
“Semua akses ditutup sampai hari ini, jadi selama libur juga tidak bisa masuk,” katanya.
Iwan menjelaskan, sengketa lahan tersebut sebenarnya sudah berlangsung lama, bahkan bertahun-tahun. Namun konflik kembali memanas sejak adanya pembentangan klaim kepemilikan lahan pada tahun 2025 lalu.
“Persoalan ini sudah lama, sudah bertahun-tahun. Cuma ada pembentangan itu dari 2025 kemarin,” jelasnya.
Pihak sekolah sempat mengira telah ada kesepakatan antara yayasan dan pihak pengusaha, sehingga guru dan siswa bersiap melaksanakan KBM seperti biasa.
Baca Juga:Pegawai dan Warga Binaan Rutan Garut Dites Urine, Seluruhnya Negatif Narkoba2.749 Personel Gabungan Amankan Laga Persib vs Persija di Stadion GBLA
“Kami kira sudah ada kesepakatan. Guru dan siswa juga mengira kepala sekolah sudah beres dengan pihak pengusaha. Tapi pas datang ke sini ternyata masih digembok,” ungkapnya.
Pengusaha yang melakukan penggembokan diketahui merupakan pemilik usaha Yoma Garut di kawasan Pengkolan, yang mengklaim memiliki tanah tempat berdirinya bangunan sekolah tersebut.
Akibat kejadian ini, sebanyak 138 siswa SMA kelas 10, 11, dan 12 terdampak dan terpaksa tidak bisa mengikuti pembelajaran di sekolah.
“Yang terdampak itu SMA saja, jumlahnya 138 siswa. Kalau SMP tidak diganggu,” ujarnya.
Menurut Iwan, sebelumnya pihak sekolah telah berupaya mencari solusi dengan melapor ke berbagai pihak, mulai dari Pemerintah Kabupaten Garut hingga pemerintah pusat.
“Ke bupati sudah, gubernur sudah, bahkan ke presiden juga sudah. Tapi guru-guru tidak bisa apa-apa,” lanjut Iwan.
