RADARGARUT.ID – Di tengah masyarakat, kritik sering dianggap ancaman. Padahal, kritik yang sehat justru menjadi tanda kepedulian. Dalam kehidupan berbangsa dan bermasyarakat, kritik bukanlah musuh, melainkan bagian penting dari proses perbaikan bersama.
Sayangnya, masih banyak warga maupun pemangku kebijakan yang mencampuradukkan antara kritik, saran, dan keluhan.
Dilansir dari beberapa sumber, kritik, saran, dan keluhan ketiganya memang sama-sama bentuk penyampaian pendapat, tetapi memiliki makna dan tujuan yang berbeda.
Baca Juga:Penggemar Wajib Tahu, 3 Drakor Season Terbaru yang Dinanti di 2026Kunjungan Wisatawan ke Garut Selama Nataru Capai 115 Ribu, PAD Baru Terealisasi 67 Persen
Kritik
Kritik biasanya berangkat dari analisis terhadap suatu kebijakan, pelayanan, atau tindakan, disertai alasan dan harapan adanya perbaikan.
Saran
Saran lebih bersifat solutif dan konstruktif, menawarkan alternatif atau jalan keluar.
Keluhan
Sementara keluhan cenderung mengekspresikan ketidakpuasan atas pengalaman pribadi, yang belum tentu disertai solusi.
Dalam konteks demokrasi, kritik merupakan salah satu bentuk partisipasi warga.
Ketika masyarakat menyampaikan kritik, itu menunjukkan bahwa mereka peduli dan ingin terlibat dalam pembangunan.
Warga yang kritis bukan berarti anti-pemerintah atau anti-lembaga, tetapi justru menjalankan hak dan tanggung jawabnya sebagai bagian dari masyarakat yang sadar akan lingkungan sosialnya.
Mengapa Kritik Sering Disalahartikan Sebagai Serangan?
Salah satu penyebabnya adalah cara penyampaian yang kurang tepat. Kritik yang disampaikan dengan emosi, bahasa kasar, atau tanpa data sering kali memicu resistensi.
Di sisi lain, penerima kritik juga kerap bersikap defensif, menganggap kritik sebagai upaya menjatuhkan atau mencari kesalahan. Padahal, tidak semua kritik bermaksud menyerang pribadi atau institusi.
Baca Juga:Bupati Garut Lantik Pejabat Struktural dan Fungsional, Tekankan Reformasi Birokrasi dan Pelayanan PrimaBTT Garut 2026 Dipangkas, Pemkab Harap Tambahan PAD untuk Perkuat Cadangan Darurat
Budaya Komunikasi
Faktor lain adalah budaya komunikasi yang belum sepenuhnya sehat. Dalam sebagian lingkungan, perbedaan pendapat masih dianggap sebagai pembangkangan.
Akibatnya, ruang dialog menjadi sempit dan kritik mudah berubah menjadi konflik. Di era media sosial, situasi ini semakin kompleks karena informasi menyebar cepat, sering kali tanpa konteks yang utuh.
Oleh karena itu, kesadaran warga menjadi kunci. Masyarakat perlu belajar menyampaikan kritik secara bertanggung jawab:
- berbasis fakta
- fokus pada persoalan
- dan disertai niat memperbaiki.
Di sisi lain, para pemangku kepentingan juga perlu membuka diri, mendengarkan dengan kepala dingin, dan memilah mana kritik yang membangun.
