Anak segala bangsa memang wajib piknik. Mau kaya atau papa. Terpelajar atau pengangguran. Ustad atau ahli maksiat. Pokoknya kabeh berjamaah, butuh piknik. Sebab, pada dasarnya menurut urang peuntas, manusia adalah homo ludens. Makhluk yang bermain. Atau kata urang lembur mah (homo) ludeung. Manusia yang pemberani dalam mengembara atau bermain. Profil manusia yang “udar-ador-aadoran”.
Ludens dan ludeung. Dua lema yang mirip. Satu produk bahasa Latin, yang satunya lagi bahasa Sunda. Keduanya adalah bagian dari pengembaraan hidup. Mirip dalam isi buku tersebut yang membentangkan perjalalanan mahajauh dalam menuntut ilmu dari mulai Belanda, Eropa Utara, Eropa Timur, Inggris Raya, Asia, hingga Amerika. Padahal, penulisnya adalah urang lembur dari Garut. Yang mampu piknik, bukan karena ia seorang milyader. Namun, ia sedang belajar.
Libur telah tiba. Libur telah tiba. Hore. Hore. Bukan hare-hare. Piknih atuh. Jangan seperti magic com yang selalu ngalumuk dan ngabenguk di rumah. Sekali-sekali piknik dan menikmati hidup ini. Mari selamatkan anak bangsa dari bahaya kurang piknik. Sekalipun parisiwatanya hanya mampu dari Singapur ke Madinah. Ternyata, dari dapur ke tengah imah saja. Ups, ternyata kaum tarawisata. (*)
