GARUT – Kegiatan donor darah yang digelar Palang Merah Indonesia (PMI) Kecamatan Tarogong Kidul, mendapat sambutan positif dari masyarakat.
Hingga siang hari, jumlah darah yang terkumpul sudah mencapai 50 labu. Kegiatan donor darah tersebut digelar di kantor Kecamatan Tarogong Kidul, Senin (22/12).
Ketua PMI Tarogong Kidul, Eris Rospitaningsih, menyampaikan rasa syukurnya atas antusiasme warga.
Baca Juga:Sekda Garut Larang SKPD Hingga Kades Keluar Daerah Saat Nataru, Demi Jaga Pelayanan PublikMengenal Puasa Rajab: Pengertian, Jadwal, serta Kalender Rajab 1447 H
Menurutnya, target awal kegiatan ini adalah 75 labu darah, namun apabila jumlah pendonor mencapai lebih dari itu, pihaknya tetap siap melayani.
“Kalau lebih dari 75 ya alhamdulillah, masih terus dilayani. Mau sampai 120 juga tidak apa-apa,” ujar Eris, di sela-sela kegiatan.
Ia menjelaskan, kegiatan donor darah ini direncanakan menjadi agenda rutin setiap dua bulan sekali. Namun untuk pelaksanaan di bulan Februari mendatang, pihaknya masih akan meninjau kembali mengingat sudah mendekati bulan puasa.
“Kalau bulan puasa ini masih kita pikirkan, tapi biasanya kalau di kelurahan lain seperti di Pataruman masih suka menyelenggarakan, tapi dilakukan malam hari,” jelasnya.
Ia mengatakan, bahwa kegiatan donor darah ini baru pertama kali dilakukan di Kecamatan Tarogong Kidul sejak dirinya resmi dilantik menjadi ketua PMI Tarogong Kidul.
“Kalau dengan kepengurusan saya sebagai ketua PMI Tarogong Kidul yang baru dilantik awal Desember, kegiatan donor darah ini baru yang pertama kali,” katanya
Eris mengungkapkan, bahwa tujuan utama kegiatan donor darah ini yakni untuk mensosialisasikan pentingnya donor darah kepada masyarakat. Ia menilai masih banyak anggapan bahwa penyediaan darah sepenuhnya menjadi tanggung jawab PMI.
Baca Juga:Tak Perlu Mewah, Ini Cara Seru Merayakan Hari Ibu di RumahPria 40 Tahun Ditemukan Tak Bernyawa di Sungai Cipala Garut
“Padahal penyediaan darah itu tanggung jawab kita bersama. Terutama keluarga pasien, sebelum ke PMI seharusnya juga mencari dari keluarga sendiri,” ungkapnya.
Selain itu, kegiatan ini juga bertujuan menghilangkan rasa takut masyarakat terhadap donor darah. Menurutnya, rasa sakit yang dirasakan ketika donor darah itu tidak sebesar apa yang dibayangkan.
“Mungkin kalau rasa sakit itu dari 1 sampai 10, saya kasih tahu kalau sakitnya mungkin hanya 2 atau 3. Jadi tidak sampai sakit seheboh yang dibayangkan,” ucapnya.
Menurut Eris, bahwa peserta donor darah berasal dari berbagai unsur, mulai dari Sekolah Menengah Atas (SMA) di wilayah Tarogong Kidul, dinas-dinas, desa dan kelurahan, pendamping PKH, pendamping desa, Pekerja Sosial Masyarakat (PSM), hingga unsur TNI-Polri seperti Koramil dan Polsek.
